Home / dunia islam terkini / hukum puasa bagi ibu hamil atau menyusui dan bagaimana cara menggantinya

hukum puasa bagi ibu hamil atau menyusui dan bagaimana cara menggantinya

Masalah Kedelapan

Bolehkah wanita hamil dan menyusui tidak berpusa Ramadhan?

 

Anas ibn Malik al-Ka’bi meriwayatkan, Rasulullah bersabda,

“Allah telah meberikan keringanan dalam puasa dan shalat kepada orang yang sedang bepergian. Allah juga telah memberikan keringan kepad wanita hamil dan menyusuinya di dalam puasanya.”

Hadis ini menunjukan bahwa wanita/ibu hamil atau menyusai boleh tidak berpuasa. Sebagian ulama berpendapat bahwa hal itu dibolehkan jika seorang wanita mengkhawatirkan kondisi anak yang sedang disusui dan dikandungannya. Abu Thalib menjelaskan, “Para ulama tidak berbeda pendapat mengenai hal itu.”

Sufan, Malik, Syfi’I dan Ahmad berpendapat bahwa wanita hamil ataupun menyusui boleh berbuka, tetapi harus mengganti puasanya dan memberi makan orang miskin.

Sedangkan, Ishaq berpendapat bahwa wanita tersebut boleh berbuka, setelah itu dia memberi makan orang miskin, tetapi tidak wajib mengganti puasanya dan tidak wajib lagi memberi makan orang miskin.

Al-Auza’I dan az-Zuhri mengatakan bahwa wanita tersebut tidak wajib memberi makan orang miskin jika dia telah mengganti puasanya. Imam Malik dan Syafi’I dalam berpendapatnya yang lain mengatakan bahwa kewajiban tersebut hanya berlaku bagi wanita menyusui, tidak berlaku bagi wanita hamil. Sebab, status wanita hamil sama seperti orang sakit.

Pendapat terkuat dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan bahwa jika wanita hamil ataupun menyusui khawatir terhadap kondisinya, dia boleh berbuka, tetapi dia harus mengganti puasanya dan tidak wajib memberi makan orang miskin. Sedangkan, jika dia mengkhawatirkan kondisi anaknya, dia boleh berbuka, tetapi dia harus mengganti puasanya dan memberi makan orang miskin dan itu merupakan pembayaran fidyah bagi wanita hamil atau menyusui.

Allah s.w.t. berfirman, “Maka wajib berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Sedangkan, perintah memberi makan orang miskin didasarkan pada penapat Ibn Abbas ketika dia menafsirkan firman Allah s.w.t., “Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankanya membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Ibn Abbas menjalaskan, “Hal itu merupakan keringanan bagi orang tua. Orang tua yang tidak mampu lagi berpuasa, dia boleh berbuka, tetapi harus memberi makan satu orang miskin setiap hari. Demikian pula dengan wanita hamil atau haid, dia boleh berbuka, tetapi dia harus memberi makan orang miskin jika dai mengkhawatirkan kondisi anaknya.”

namun jika masalahnya dibalekj  seperti pertanyaan berikut ini :” bolehkan ibu hamil atau menyusui berpuasa ?”.

menngenai hal ini penulis berpendapat bahwa hal ini boleh-boleh saja jika ibu hamil atau menyusui tersebut tidak menghawatirkan anak yang disusuinya atau dikandungnya. namun jika ibu tersebut khawatir maka boleh juga untuk tidak berpuasa.

 

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam