Home / dunia islam terkini / Ancaman bagi orang yang membatalkan puasanya dengan sengaja dan tanpa udzur syar’i

Ancaman bagi orang yang membatalkan puasanya dengan sengaja dan tanpa udzur syar’i

Masalah keempat puluh tujuh

Ancaman bagi orang yang membatalkan puasa Ramadhan tanpa alasan kuat

 

Imam at-Tirmidzi dan Abu Daud meriwayatkan, Nabi s.a.w. bersabda, “orang yang sengaja membatalkan puasa suatu hari dibulan Ramadhan bukan karena suatu keringanan ataupun sakit, maka puasa datu tahun belum dapat menggantikan puasa yang ditinggalkannya itu.”

Ibn Khuzaimah dan Ibnu Hibban meriwayatkan bahwa Nabi s.a.w. bersabda, “Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba datang dua orang laki-laki. Kemudian, mereka membawaku ke sebuah gunung yang sulit dilalui. Mereka berkata, “Kami akan menjadikannya mudah bagimu.”Aku pun naik ke atas, ketika aku sudah sampai puncak gunung, aku mendengar suara-suara sangat keras. Aku bertanya, “Suara-suara apa ini?” mereka menjawab, “Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.” Kemudian mereka berdua membawaku hingga aku melihat suatu kaum digantung dengan menggunakan urat-urat tumit mereka lalu mulut-mulut mereka dirobek, hingga mulut-mulut mereka itu mengeluarkan darah. Aku pun bertanya, “Siapa orang-orang itu?” Merek berdua menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berbuka sebelum puasa mereka berakhir.”

Al-Bazzar telah meriwayatkan, ada seorang laki-lai yang berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah celaka, karena telah berbuka dengan sengaja.” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Bebaskanlah satu orang budak!” orang itu berkata, “Aku tidak mampu.” Rasulullah s.a.w. pun bersabda, “Berpuasalah selama dua bulan berturut-turut!” Orang itu berkata, “Aku tidak mampu.” Rasulullah s.a.w. pun bersabda lagi, “Berilah makan kepada 60 orang miskin!”

Abu Ya’la meriwayatkan, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Tiga di antara lima dasar agama islam, jika ditinggalkan salah satunya maka telah kafir, yakni bersaksi tiada tuhan selain Allah, mengerjakan shalat dan menunaikan puasa Ramadhan.” Dalam riwayat lain disebutkan, “….orang yang meninggalkan salah satunya, maka dia telah kafir kepada Allah, dan tidak akan diterima harta yang disedekahkan dan keadilan yang ditegakkan. Sungguh, harta dan darahnya telah halal.”

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Lalka’I dalam kitab as-Sunnah dan Abu Ya’la dari Mu’ammil ibn Isma’il. Abu Ya’la berkata, “Hammad ibn Zaid telah meriwayatkan kepada kami dari Amr ibn Malik an-Nukri dari Abu al-Jauza dari Ibnu Abbas. Dalam sanad hadis tersebut Mu’ammil seorang periwayat yang tidak dianggap dapt dipercaya oleh siapapun kecuali oleh Ibnu Hibban.

dari hadits hadits diatas telah jelas menunjukkan bahwa hadits-hadits tersebut merupakan ancaman yang diberikan bagi seseorang yang membatalkan puasa tanpa adanya sebab atau udzur yang diperbolehkan oleh Agama. oleh karena marilah kita menjaga puasa kita agar kelak kita tidak mendapatkan siksa sebagaimana yang telah Nabi SAW jelas kepada kita.

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam