Home / dunia islam terkini / APA YANG HARUS DILAKUKAN WANITA MUSTAHADHAH KETIKA HENDAK SHALAT DAN HUKUM MENJAWAB ADZAN BAGINYA

APA YANG HARUS DILAKUKAN WANITA MUSTAHADHAH KETIKA HENDAK SHALAT DAN HUKUM MENJAWAB ADZAN BAGINYA

dalam pembahasan kali ini kita akan mengulas bagaimana kita menanggulangi darah istihadaha yang keluar dari farji.

Ketika hendak melakukan shalat, wanita mustahadhah harus melaksanakan apa yang telah diperintahkan Rasulullah saw. ketika beliau menjawab pertanyaan Ummu Salamah:Artinya:“Bahwa Ummu Salamah itu meminta fatwa Rasulullah saw. Mengenai wanita yang deras mengeluarkan darah.

Kata Nabi: “Hendaklah wanita itu menunggu beberapa malam dan hari sesuai dengan haid yang pernah dia alami, perkirakanlah berapa lama tiap bulannya. Selama itu tinggalkanlah shalat, kemudian mandilah lalu pakailah cawat kemudian shalat”. (H.R. Lima Perawi selain At-Tirmidzi)

Dari hadits di atas dapat dimengerti bahwa ketika hendak melakukan shalat, wanita mustahadhah hendaklah bercawat untuk mencegah keluarnya darah di tengah shalat.

Caranya, ikatkanlah kain pada farjinya menurut deras tidaknya darah yang keluar. Kalau darah keluar hanya sedikit, cukuplah dengan menaruh sedikit kapas pada lubang farji, agar darah najis itu terserap dan tidak menempel di tempat lain. mungkin belum ada obat yang dapat mengobati darah istihadaha yang mengalir tersebut namun bisa diakali atau bisa ditanggulangi dengan cara seperti diatas .

Tapi kalau cukup deras, buatlah cawat dari kain penghisap dan letakkan di atas farji, sedang kedua ujungnya melingkar melewati celah antara dua pangkal paha dan pantat. Dan ikatlah kedua ujung kain itu dengan kain lain yang terikat melingkari pinggang.Jadi ringkasnya, cegahlah darah jangan sampai menetes ke tempat lain ketika sedang shalat yang menurut sebagian Ulama perbuatan seperti ini mustahab hukumnya. Dan Allah juga Yang Lebih Tahu.

MENJAWAB ADZAN

Tak ada halangan bagi wanita yang sedang haid atau nifas atau berjinabat untuk menjawab adzan. Dan meskipun para Imam madzhab berselisih pendapat dalam masalah ini, namun hal itu tetaplah mandub dan tak apa dilakukan –Insya Allah–. Karena  darah haid, nifas, janabat atau apa saja yang lain –selain masuk jamban– bukanlah merupakan penghalang bagi siapa pun untuk mengingat (berdzikir) kepada Allah.

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam