Home / dunia islam terkini / batasan aurat wanita muslimah

batasan aurat wanita muslimah

APAKAH YANG BOLEH KELIHATAN DARI WANITA DI LUAR SHALAT?

Dalam keadaan sendirian, atau ketika berkumpul sesama mahram, aurat wanita di luar shalat ialah anggota tubuh antara pusat dan lutut. Namun demikian baiklnya kita perlihatkan pendapat para Ulama dalam masalah ini:

Menurut para Ulama Maliki, aurat wanita terhadap mahramnya yang lelaki ialah seluruh tubuhnya selain wajah dan ujung-ujung badan, yaitu kepala, leher, dua tangan dan kaki.

Sedang menurut Ulama Hambali, aurat wanita terhadap mahram-mahramnya yang lelaki ialah ’seluruh badan, selain wajah, leher, kepala, tangan, telapak kaki dan betis.

dari hadits diatas menunjukkan kepaa ita batasan-batasan sampai seberapa aurat wanita tatkala bertemu mahramnya dalam artian terhadap keluarga yang mahram(haram) baginya.

adapun batasan aurat wanita kepada selain mahramnya kebanyakan para ulama’ sepakat bahwa batasan aurat wanita hanyalah telapak tangan dan wajah selebihnya maka ditutupi, adapun menurut pandangan para imam madhab antara lain :

madhab maliki berpendapat bahwa batasa aurat wanita yaitu telapak tangan dan wajah namun imam malik berpendapat bahwa itu termasuk aurat mukhaffaf adapun yang mutsaqqol antara lain leher, kepal, punggung, kaki dada, punggung kaki.

madhab hanafi beliau berpendapat bahwa aurat wanita itu seluruh baan kecuali muka, tangan, punggung kaki, telapak kaki dan suara wanita yang merdu, jika tidak merdu maka bukan termasuk aurat.

madhab syafii yaitu aurat wanita adalah seluruh badan tanpa terkecuali.

adapun imam hambali aurat wanita beliau berpendapat bahwa batasan aurat wanita adalah seluruh tubuh termasuk aurat kecuali wajah dan telapak tangan.

Begitu pula terhadap sesama wanita yang beragama Islam, boleh orang perempuan memperlihatkan badannya selain anggota antara pusat lutut, baik ketika sendirian maupun ketika wanita-wanita itu ada di sisinya. Dan sebenarnya masih ada keterangan lebih lanjut menurut masing-masing madzhab mengenai masalah ini. Tapi di sini hanya pandangan para Ulama madzhab Hambali saja yang kami kemukakan.

Menurut para Ulama Hambali, tidak ada perbedaan antara wanita Muslimat dan kafir dalam masalah ini. Artinya baik di hadapan sesame muslimat maupun di depan wanita kafir, seorang wanita muslimat boleh membuka tubuhnya, selain anggota antara pusat dan lutut.

Kemudian sekarang mengenai aurat wanita di depan laki-laki bukan muhrim atau di depan wanita no muslim. Dalam hal ini menurut kami, aurat wanita adalah seluruh tubuhnya selain wajah, dan dua telapak tangan. Karena anggota-anggota ini memang bukan aurat, jadi boleh saja diperlihatkan kalau dirasa takkan menimbulkan fitnah.

Dalam pada itu menurut Asy-Syafi’i, wajah wanita dan juga kedua telapak tangannya, di hadapan lelaki bukan muhrim adalah tetap aurat. Sedang di hadapan wanita kafir, bukan aurat. Begitu pula tak jadi apa bila seorang wanita muslimat memperlihatkan sebagian anggota tubuhnya ketika bekerja di rumah, seperti leher dan lengan tangan.

Demikian pula di depan wanita jalang, sama seperti di depan wanita kafir, wajah dan telapak tangan bukan aurat.

Dan semua keterangan di atas, kiranya dapat kita simpulkan bahwa tujuan dan menutup aurat adalah agar aman atau karena kekhawatiran akan timbulnya fitnah dan akhlak yang buruk. Maka sewajarnyalah bila anda menjaga diri anda sendiri. Dalam pada itu perlu diingat bahwa, sekalipun kebanyakan Fuqaha (Jumhur) sepakat atas bolehnya memperlihatkan wajah dan telapak tangan kepada selain muhrim, namun bila dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah, maka wajah dan telapak tangan pun wajib ditutupi. Dan Allah jualah yang Iebih tahu.

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam