Home / dunia islam terkini / Berbicara dan menjaga lidah atau lisan menurut islam

Berbicara dan menjaga lidah atau lisan menurut islam

 

Bagaimanakah Caranya Lidah Berpuasa?

 

Lidah juga dianjurkan berpuasa. Puasa lidah sangat istimewa. Hanya orang-orang yang tidak mau melakukan perbuatan sia-sia saja yang dapat mengetahui bagaimana cara lidah berpuasa. Puasa lidah bisa dilakukan di bulan Ramadhan ataupun di luar bulan Ramadhan. Namun, puasa lidah di bulan Ramadhan lebih dianjurkan dan disukai.

Dalam sebuah hadis sahih diriwayatkan bahwa Rasulullah pemah berkata kepada Mu’adz, “Peliharalah olehmu bagian ini!”

Rasulullah mengatakan ucapan itu seray menunjuk ke arah lidahnya.

Mu’adz bertanya, “Apakah kami akan disiksa karena apa yang kami ucapkan, Rasulullah?”

Rasulullah menjawab, “Mu’adz, tidaklah orang-orang itu dilemparkan ke dalam api neraka melainkan karena lidah mereka/’

Lidah sangat berbahaya dan membawa banyak mudharat.

Lidah itu bagaikan binatang buas yang membahayakan, ular yang berbisa, dan seperti api yang bergejolak.

Jangan biarkan lidahmu menyebut aib orang lain

Setiap orang pasti memiliki aib, juga lidah

Ibnu Abbas pernah berkata kepada lidahnya sendiri, “Wahai lidah! Ucapkanlah ucapan yang baik-baik saja! Ucapkanlah perkataan yang bermanfaat atau diam dan keburukan, maka kamu akan selamat.”

Allah akan memberikan rahmat-Nya kepada seorang muslim yang menjaga lidahnya dan ucapan kotor, mengikatnya dan perbuatan ghibah, mencegahnya dan ucapan sia-sia, dan mengekangnya dan ucapan yang diharamkan.

Allah akan merahmati orang yang memperhitungkan apa yang diucapkannya, memelihara lidahnya, memperbaiki lidahnya, dan menimbang-nimbang apa yang akan dikatakannya.

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qâf: 18)

Setiap lafaz yang diucapkan selalu diawasi, dan setiap kalimat yang dikatakan akan selalu diperhitungkan.

“Sekali-sekali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba(Nya). (QS. Fushshilat: 46)

“Orang yang memberi jaminan kepadaku den gan men jaga bagian tubuh antara dua rambut (mulut) dan antara dua paha (kemaluan), maka aku akan memberikan jaminan berupa surga kepadanya.” (HR. Bukhari)

Jagalah lidahmu, wahai manusia!

Ia bagaikan ular, jangan sampai menggigitmu

Demi Allah, kematian adalah ketika lidah tergelincir

Di dalamnya terdapat kebinasaan dan kerugian

Atas dasar pelajaran dan al-Qur’an dan as-Sunnah ini, kaum salaf saleh selalu menimbang-nimbang setiap ucapan mereka dan menjadikan setiap perkataan mereka menjadi perkataan yang mulia dan ini merupakan salah satu bentuk menjaga lidah maupun lisan. Ucapan mereka adalah zikir, pandangan mereka adalah pelajaran, dan diam mereka adalah berpikir.

Para ahli kebajikan akan merasa takut jika nanti menghadap kepada Sang Khalik yang Maha Esa. Oleh karena itu mereka segera berusaha menjadikan apa yang diucapkan oleh lisan mereka sebagai zikir dan rasa syukur kepada-Nya, dan menghentikan ucapan kotor, menyakitkan, dan ucapan hina.

Ibnu Mas’ud pernah berkata, “Demi Allah, di muka bumi ini tidak ada hal lain yang lebih berhak untuk dikekang dalam waktu yang lama selain lidah.”

Orang-orang yang saleh ketika hendak mengucapkan sesuatu lalu ingat akan akibat dan dampak yang akan mereka dapatkan dan ucapan itu, maka mereka pun segera berdiam diri.

Bagaimana cara berpuasa bagi orang yang lidahnya selalu mengucapkan kata-kata cacian? Bagaimana cara berpuasa bagi orang yang dipermainkan oleh lidahnya, diperdaya oleh ucapannya, dan tertipu oleh perkataannya? Bagaimana cara berpuasa bagi orang yang suka berdusta, memperdaya orang lain, sering mencaci dan mengumpat, serta lupa akan hari hisab nanti? Bagaimana cara berpuasa bagi orang yang suka memberikan kesaksian palsu dan tidak pernah menghentikan ucapan buruk terhadap kaum muslimin?

“Seseorang dikatakan muslim jika dapat membuat muslim lainnya merasa aman dan lidah dan perbuatan tangannya.” (HR. Bukhari-Muslim)

“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih  baik (benar). Sungguh syetan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.” (QS. Al-Isra: 53)

Ucapan yang baik adalah ucapan yang sopan, baik, dan indah yang sama sekali tidak menyakiti perasaan, harga diri, dan kemuliaan seorang mukmin.

“Janganlah sebahagianya kamu menggunjing sebahagianya yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kamu merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat:12)

Berapa banyak orang yang puasanya rusak karena lisannya tidak mampu menjaga ucapan-ucapan kotor, karena perkataan yang diucapkan mulutnya adalah perkataan buruk.

Tujuan puasa bukan hanya sekedar lapar dan dahaga saja, akan tetapi lebih dan itu sebagai sebuah latihan akhlak dan moral.

Pada lidah terdapat lebih dan sepuluh penyakit yang akan timbul, jika lidah itu tidak dipelihara dengan baik.

Di antara penyakit yang terdapat dalam lidah adalah: dusta, ghibah, adu domba, ucapan keji, mengumpat, ucapan kotor, kesaksian palsu, ucapan laknat, menghina orang lain, mengejek, dan lain-lain.

Berapa banyak ucapan lidah yang menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka. Hal itu disebabkan karena ucapan itu diucapkan tanpa kendali, dilepas tanpa kekang, dan dibiarkan keluar begitu saja tanpa dipilah terlebih dahulu.

Lidah adalah jalan menuju kebaikan, dan sekaligus jalan menuju keburukan. Sungguh beruntung orang yang menggunakan lidahnya atau banyak berbicara dan melantunkan dengan lisan ata mulutnya untuk mengingat Allah dengan beristighfar, mengucapkan tahmid, tasbih, mengucapkan rasa syukur, dan bertobat. Sebaliknya, sungguh merugi orang yang menggunakan lidahnya untuk menghina harga dan orang lain, menyakiti kehormatannya, dan merusak nilai-nilai kemuliaannya.

Wahai orang-orang yang berpuasa, basahilah lisan kalian dengan berzikir, didiklah dengan ketakwaan, dan sucikanlah dan segala bentuk perbuatan maksiat!

Ya Allah, kami memohon kepadamu agar lidah ini selalu mengucapkan atau berbicara yang benar, hati yang bersih, dan akhlak yang lurus. []

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam