Home / dunia islam terkini / Berpuasa ketika perjalanan (Hukum puasanya musafir dalam perjalanan atau bepergian)

Berpuasa ketika perjalanan (Hukum puasanya musafir dalam perjalanan atau bepergian)

Masalah kedua puluh lima

Apa hukum berpuasa dalam perjalanan ?

Ibn Abi Aufa r.a berkata, “Kami pernah bersama Rasulullah s.a.w dalam suatu perjalanan. Saat itu beliau bersabda kepada seorang lelaki, “Turun dan buatkan minuman untukku!” orang itu menjawab, “Rasulullah, matahari masih ada.” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Turun dan buatkan minuman untukku!” orang itu menjawab, “Rasulullah, matahari masih ada, “Rasulullah s.a.w. bersabda sekali lagi, “Turun dan buatkan minuman untukku!” orang itu pun turun, lalu dia membuatkan minuman untuk Nabi, dan beliau pun meminumnya. Setelah itu, Rasulullah s.a.w. menunjuk tangannya ke arah barat sambil bersabda, “jika kalian melihat waktu malam telah datang dari arah barat, maka sungguh orang yang berpuasa telah berbuka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam Bukhari menjadikan hadis ini sebagai dalil bahwa berpuasa dalam perjalanan atau puasa bagi musafir  adalah boleh. Sebab, seperti yang termaktub dalam hadis di atas, Nabi s.a.w berpergian dalam keadaan berpuasa, artinya seorang musafir boleh tidak berpuasa.

Aisyah r.a meriwayatkan

Hamzah ibn Amr al-Aslami pernah berkata kepada Nabi s.a.w, :bolehkah aku berpuasa dalam perjalanan ?” Rasulullah s.a.w.  menjawab,”berpuasa dan berbukalah jika kamu menghendaki.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ibn Daqiq al-‘id berkat, “ Dalam hadits tersebut, tidak ada satu penegasan bahwa yang dimaksud dengan puasa adalah puasa Ramadhan. Oleh karena itu, dalam hadis tersebut tidak terdapat dalil bagi orang yang tidak membolehkan puasa Ramadhan di dalam perjalanan.”

Ibn Hajar menjelaskan: berdasarkan konteks hadist tersebut pendapat yang dikatakan oleh Ibn Daqiq adalah benar. Tetapi, dalam riwayat muslim disebutkan bahwa Abu Mirwah berkata, “Rasulullah! Aku kuat berpuasa dalam perjalanan. Berdosakah aku jika berpuasa ?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Berbuka adalah keringanan dari Allah. Orang yang memanfaatkan keringanan itu lebih baik. Dan orang yang ingin berpuasa, maka tidak ada dosa baginya.” (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukan bahwa abu Mirwah telah menanyakan kepada Nabi s.a.w. tentang puasa wajib. Karena “keringanan” hanya akan diberikan untuk menggantikan sesuatau yang wajib.

Riwayat yang lebih menjelaskan tentang hal itu adalah riwayat dari Aisyah yang menyebutkan Hamzah ibn ‘Amr al-Aslami pernah bertanya kepada Rasulullah tentang puasa dalam perjalanan. Maka Rasulullah s.a.w. pun menjawab, “Berpuasa dan berbukalah jika kamu menghendaki.”

Dari penjelasan diatas, dapat disimpulakn bahwa orang yang sedang berpergian (Musafir) boleh mengerjakan puasa Ramadhan bila tidak memberatkannya. Tetapi, jika memberatkan, alangkah lebih baik jika berbuka, karena kebolehan berbuka itu merupakan keringanan yang diberikan Allah s.w.t. Wallahu a’lam

 

 

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam