Home / dunia islam terkini / FIQIH WUDHU MADZHAB IMAM AL-HANAFI TENTANG MENYENTUH WANITA

FIQIH WUDHU MADZHAB IMAM AL-HANAFI TENTANG MENYENTUH WANITA

Para Ulama madzhab Hanafi mengatakan, bahwa sekedar bersentuhan antara lelaki-perempuan tidaklah membatalkan wudhu’, kecuali bila yang dimaksud adalah persentuhan yang bersangatan, di mana kemaluan mereka masing-masing saling menempel dengan syahwat tanpa dihalangi oleh sesuatupun yang dapat mencegah terasanya panas tubuh masing-masing oleh kedua belah fihak.

berpeganganBila tenjadi persentuhan yang sedemikian rupa antara lelaki-perempuan barulah wudhu’ mereka benar – benar batal. Dan demikian pula bila tenjadi persentuhan yang serupa antara dua orang perempuan, maka kedua-duanya batal wudhu’nya.

Adapun para ulama’ jumhur bersepakat bahwa bersentuhan tidak membatalkan wudhu selama persentuhan tersebut tidak mengundang syahwat atau kenikmatan (lazzah),adapun pendapat yang tidak membatalkan wudhu hanyalah madhab imam hanafi saja dan perkataan mereka diperkuat dengan hadits yang disampaikan Nabi SAW :Dari Habib bin Abi Tsabit dari Urwah dari Aisyah ra. dari Nabi SAW bahwa Rasulullah SAW mencium sebagian istrinya kemudian keluar untuk shalat tanpa berwudhu`”. Lalu ditanya kepada Aisyah,”Siapakah istri yang dimaksud kecuali anda?” Lalu Aisyah tertawa. (HR. Turmuzi Abu Daud, An-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad).

Adapun pendapat yang rojih artinya yang paling kuat dalam hal ini adalah tidak membatalkan wudhu dan berikut Dalilnya, hadits yg diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (setelah berwudhu), beliau menciumi sebagian istrinya, lalu beliau pergi (ke masjid) utk sholat tanpa mengulangi wudhu beliau.”

(Hadits SHOHIH. Diriwayatkan oleh Abu Daud no.178-180, At-Tirmidzi no.86, An-Nasai I/104, dan selainnya. Dan hadits ini dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani di dlm Shohih Al-Jami’ IV/273).

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam