Home / dunia islam terkini / FIQIH WUDHU MADZHAB IMAM HANBALI TENTANG MENYENTUH WANITA

FIQIH WUDHU MADZHAB IMAM HANBALI TENTANG MENYENTUH WANITA

Sekarang bagaimanakah pendapat para Ulama Madzhab imam Hanbali? Mereka tegas menetapkan bahwa persentuhan antara lelaki-perempuan membatalkan wudhu’ bila terjadi dengan syahwat tanpa ada penghalang; tak peduli apakah yang bersentuhan itu masih muhnim atau bukan, dan apakah yang disentuh itu masih hidup atau sudah mati, mau muda atau sudah tua, telah dewasa maupun masih kecil, asal telah mencapai umur yang biasanya sudah dapat menimbulkan syahwat. (Fiqh ‘Ala Al-Madzahahib Al-Arba’ah cet. Ke-7 Wazarah Al-Auqaf, dengan perubahan redaksi disesuaikan dengan Fiqh Al-Mar’ah). Dalil yang menjadi pijakan beliau adalah ;

Artinya : “apabila kamu semua dalam keadaan sakit atau bepergian atau setelah buang hajat atau menyentuh perempuan…”(Al-maidah :6) dan hadits Nabi yang diriwayatkan Imam Abu Dawud :

Artinya : Rasuluallah mencium Aisyah lalu beliau melaksanakan sholat tanpa wudhu dulu. (HR. Abu Dawud).

Namun dikalangan mereka berselisih tentang bagaimana hukum perempuan tatkala tersentuh laki-laki apakah batal juga ? sedangkan dalil tersebut hanya menunjukkan pada laki-laki saja dan ayat ini tidak biasa disimpulkan bahwa wudhunya perempuan juga batal dengan menyentuhnya laki-laki.

 

Demikianlah pendapat para Ulama pada masing-masing madzhab, sedang saya sendiri cenderung bahwa wudhu’ seorang wanita tetap belum batal, kecuali bila ketika menyentuh lelaki ia merasa ni’mat atau bermaksud agar mendapatkan keni’matan. Jadi kalau dengan menyentuh lelaki, wanita ¡tu bermaksud mendapatkan keni’matan, dan ternyata berhasil mendapatkannya, barulah ketika ¡tu batal wudhu’nya. Dan demikian pula batal wudhu’nya bila ia merasakan keni’matan, meski asalnya tidak bermaksud demikian. Namun Allah jua Yang Maha Tahu.

Dalam hal itu Syaikh Asy-Syaukani dalam “Nail Al-Authar” menurunkan pendapat dan penyusunnya yang asli: “Dan madzhab paling adil yang merupakan kesimpulan dan hadits-hadits tersebut di atas –sambil menunjuk hadits-hadits yang telah dia kemukakan dalam masalah ini– adalah madzhab yang berpendapat, bahwa persentuhan lelaki perempuan itu tidaklah membatalkan wudhu’; kecuali bila dibarengi dengan syahwat.”

 

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam