Home / dunia islam terkini / Hal Puasanya perut menurut islam

Hal Puasanya perut menurut islam

Bagamanakah Caranya Perut Berpuasa?

 

Makanan yang halai atau yang haram sama-sama memiliki dampak bagi kehidupan, perilaku, dan akhlak seorang manusia. Oleh karena itu Allah memerintahkan kepada para rasul-Nya, “Hai para rasul, makanlah makanan yang baik, dan kerjakanlah amal yang saleh!” (QS. Al-Mu’minûn: 51)

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah. (QS. Al-Baqarah: 172)

Makanan yang baik adalah makanan yang telah dihaialkan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Makanan yang dihalalkan ini telah dijelaskan oleh Allah melalui lidah Rasulullah. Allah berfirman mengenai makanan yang baik ini, “Dan men ghalalkan bagi mereka se gala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. A1-A’râf: 157)

Puasanya perut adalah dengan menjauhi perut dan hal-hal yang diharamkan, selain menjauhi makanan dan minuman, serta hal-hal yang dapat membatalkan puasanya di siang haripada bulan Ramadhan. Bukan itu saja ia juga harus mempuasakan perutnya dan hal-hal yang diharamkan meski waktu berbuka puasa telah tiba atau ketika sedang tidak berpuasa. Yaitu dengan tidak memakan harta riba, karena memakan harta riba akan mendatangkan murka dan Allah. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda!” (QS. A1-Mâ’idah: 130).

“Allah telah men ghalalkan jual beli dan men gharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Dalam sebuah hadis shahih Rasulullah pernah bersabda, “Allah melaknat oran g yang mengambil harta riba, yang memberi harta riba, penulis dan kedua saksinya.” Rasulullah melanjutkan, “Mereka semua sama derajatnya.” (HR. Muslim)

Pemakan harta riba mengisi perutnya dengan makanan yang diharamkan. Jika ja berdoa kepada Allah, tidak akan diterima, karena pintu doa telah ditutup dan dikunci baginya.

Dalam sebuah hadis sahih Rasulullah pernah menjelaskan tentang seorang pria yang rambutnya kusut dan kusam. Pria itu sering melakukan perjalanan panjang. Suatu ketika pria itu menengadahkan kedua lengannya ke atas langit dan berdoa, “Ya Tuhanku, ya Tuhanku…” Sedangkan makanan yang dimakannya adalah haram, minumannya haram, dan selalu menyantap yang haram. Bagaimana mungkin pria seperti ini doanya akan dikabulkan. (HR. Muslim).

Pria ini sebenarnya merupakan seorang ahli ibadah yang sering beribadah. Hanya saja makanan yang dimakannya adalah haram. Dan tidak bertakwa kepada Allah dalam hal makanan dan minumannya.

Allah menutup rasa keimanannya ketika makanan dan minuman yang dimakan dan diminumnya telah merusak keimanannya. Hatinya akan menjadi kesat akibat makanan danminuman yang haram. Cahaya kebenaran dalam hatinya akan hilang manakala perut tidak lagi menyantap makanan yang halal.

Ada sebuah riwayat yang berasal dari Abu Bakar ash-Shiddiq. Disebutkan bahwasanya suatu ketika dia dibawakan makanan oieh pelayannya. Dia lalu mempertanyakan kepada pembantunya dan mana asal makanan itu. Sang pembantu menjawab, “Makanan ini didapatkan dan tempat perdukunan di mana pada masa jahiiiyah dahulu aku pernah melakukan prosesi perdukunan.” Abu Bakar pun memasukkan tangannya ke dalam muiut, dia berusaha mengeiuarkan makanan yang telah ditelan dalam perutnya. Allah meridhai sikapnya yang telah membenarkan, memperbaiki, dan mensucikan perutnya dan makanan yang haram.

Potongan makanan akan tertinggal dalam perut orang yang memakannya. Makanan itu akan menjadi daging dan darah. Tubuh yang tumbuh dan makanan yang haram maka tempat yang utama baginya adalah neraka.

Kaum salafusaleh selalu mencari tahu dan mana berasal makanan yang mereka makan. Oleh karena itu rasa keimanan mereka selalu suci dan tubuh mereka selalu sehat. Selain itu, hati mereka pun menjadi memancarkan sinar. Sedangkan orang-orang yang hidup di zaman setelahnya memakan makanan dan meminum minuman yang haram, sehingga petunjuk hidayah dalam hati mereka pun menjadi sirna.

Rasulullah pernah bersabda, “Tidaklah seseorang dianggap memakan makanan yang balk selaín dan hasil jerih payah usahanya sendiri.Sungguh Nabi Daud selalu makan dari hasil jenih payah usahanya sendiri.” (HR. Bukhan)

Nabi Zakaria merupakan seorang pandai batu, sedangkan Nabi Daud adalah seorang pandai besi, dan Nabi Muhammad merupakan seorang penggembala kambing.

Agama Islam selalu menyeru kepada umatnya untuk senantiasa berusaha, bekerja, dan mencari rezeki. Akan tetapi, usaha yang dilakukan harus tetap dalam koridor ajaran syariat islam yang dibenarkan.

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat.” (QS. A1-An’âm: 152).

“Sungguh orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.” (QS. An-Nisâ’:lO).

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu den gan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu inengetahui. (QS. A1-Baqarah: 188)

“orang-orang yang makan (men gambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lan taran (tekanan) penyakit gila. (QS. Al-Baqarah: 275)

Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda, “Sungguh Allah melaknat penyuap dan penerima suap.”

Allah mengecam perbuatan merusak yang dilakukan oleh bangsa Yahudi dan Nashrani dalam firman-Nya, “Dan kamu akan melihat kebanyakan dan mereka (oran g-orang Yahudi) bersegera membuat dosa, perm usuhan, dan memakan yang haram. Sungguh amat buruk apa yang mereka telah kerjakan itu. (QS. A1-Mâ’idah: 62)

Ada seorang ahli ilmu menceritakan pengalaman pribadinva. Dia menceritakan bahwa dirinya jika memakan makanan yang masih syubhat maka dia akan merasa ada perubahan dalam hatinya. Selama beberapa waktu dia akan merasa tersiksa. Hal itu dia rasakan karena kesucian hatinya, sehingga ia dapat merasakan adanya perubahan dalam hatinya dengan mudah. Adapun mayoritas manusia yang hidup di zaman sekarang ini, mereka memakan apa saja yang mereka mau, meski antaranya ada yang haram namun hati mereka biasa-biasa saja. Hal ini seperti yang digambarkan dalam sebuah syair:

Siapa yang menyepelekan maka akan mudah menyepelekan pengaruh dan sikap menyepelekannya itu

Luka, bagi orang yang telah mati, tidak akan terasa sakit

Sebagian orang bahkan dengan tenangnya memimum-minuman khamer dan yang memabukkan. Sikap mereka itu membuat mereka jauh dan kenikmatan ibadah dan indahnya ketaatan. Mereka akan hidup dalam kebimbangan dan jauh dan kebahagiaan, serta doa mereka tidak akan dikabulkan.

Puasa mengharuskan perut berpuasa dan makanan-makanan haram. Jika perut tidak berpuasa maka ia sama saja tidak bepuasa. Adakah orang yang berpuasa di siang hari namun makan dan minum sesuatu yang diharamkan, dapat masuk ke dalam surga?

Ya Allah, jadikan kami termasuk golongan orang yang menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram.

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam