Home / dunia islam terkini / HAL YANG MEMBATALKAN MENGUSAP SEPATU KEETIKAWUDHU

HAL YANG MEMBATALKAN MENGUSAP SEPATU KEETIKAWUDHU

MENGUSAP SEPATU PANJANG

Menurut H.R. lima perawi selain An-Nisa’I, dan disahkan oleh At-Tirmidzi.Artinya:“Dan Al-Mughirah bin Syu’bah ra., bahwa Rasulullah saw. berwudhu’, ketika itu beliau (cukup) mengusap kedua kasut dan sandalnya”.

Sedangkan menurut H.R. Ahmad, At-Thabrani dan At-TirmidziArtinya:Dan dari Bilal ra. bahwa ia mengatakan: “Pernah aku melihat Rasulullah saw. mengusap kedua sepatu dan tutup kepala.”Dengan demikian kita lihat bahwa syari’at berkenan mengizinkan seseorang untuk cukup mengusap sepatu dan sebagainya, tanpa harus membasuh kaki ketika berwudhu’, dengan syarat-syarat sbb.:

1.    Sepatu itu cukup tebal hingga air tidak tembus ke dalam

.2.    Tidak terbuat dan bahan yang bening hingga memperlihatkan kaki yang dibungkusnya, sekalipun tebal apalagi tipis

.3.    Menutupi kaki sampai ke atas mata kaki (yang biasa dibasuh ketika berwudhu’)

4.    Dipakai sesudah suci dan hadats kecil maupun besar dengan menggunakan air. Jadi tetap belum boleh mengusap sepatu jika pemakaiannya sesudah tayammum, atau sebelum bersuci dengan air secara sempurna seperti biasa (dengan membasuh kaki segala).

5.    Sepatu itu harus suci dan tidak terdapat padanya sesuatu yang menghalangi sampainya air kepadanya, seperti tepung dll.

CARA MENGUSAPSEPATU KETIKA BERWUDHU

Berwudhu’lah seperti biasa. Hanya setelah mengusap kepala atau telinga, anda tak perlu membasuh kaki. Cukup membasahi tangan anda lalu diusapkan minimal pada bahagian atas sepatu, asal bisa disebut mengusap. Karena menurut hadits riwayat Al-Mughirah bin Syu’bah ra:Artinya:“Saya ,melihat Rasulullah saw. mengusap bagian atas sepatunya”. (H.R. Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmidzi).Tapi jika ingin lebih sempurna, usaplah bagian atas dan bawahnya sekaligus. Dasarnya hadits riwayat Al-Mughirah ra. juga:Artinya:“Bahwa Nabi saw. mengusap bagian atas dan bawah sepatu.”

Dalam hal ini, letakkanlah tangan kiri anda di bawah tumit, sedang tangan kanan pada ujung sepatu. Lalu usaplah bagian atas sepatu dengan tangan kanan anda itu, dan ujùng sampai ke betis bagian bawah. Sedang tangan kiri mengusap bagian bawah sepatu dan tumit sampai keujung, sambil menebarkan jari-jari telapak tangan.

LAMANYA MELEPAS SEPATU KETIKA BERWUDHU

Lamanya waktu melepas sepatu  diperbolehkan tidak membuka sepatu itu hanya sehari semalam bagi orang yang tidak bepergian jauh, dan tiga hari tiga malam bagi yang bepergian jauh, terhitung sejak hadats yang pertama (batal wudhu’ sesudah memakai sepatu).

Abu Daud mengatakan: “Ali bin Abi Thahib telah mengusap kedua kaus kakinya, dan begitu pula ibnu Mas’ud, Al-Barra’ bin ‘Azib, Anas bin Malik, Abu Umamah, Sahal bin Sa’ad dan ‘Amr bin Harits” (Nail Al-Authar 1:272)

Dan kata Asy-Syaukani: “Dan telah disebutkan di atas –maksudnya telah dia sebutkan sebelumnya– bahwa mengusap sepatu adalah hal yang mujma’ (disepakati) oleh semua para sahabat Nabi. Dan begitu pula tentang mengusap sandal, dibolehkannya adalah

bila keduanya dipakai merangkapi kaus kaki” (Ibid, 1:273)Berdasarkan keterangan di atas, ditambah dengan keterangan lalu, maka tegaslah bahwa mengusap sepatu, bahkan juga kaus kaki dan kerudung kepala memang boleh, sebagaimana bisa kita lihat pada hadits kedua di atas. Sungguhpun begitu, namun tidak diragukan, bahwa membasuh anggota wudhu’ (kaki) itu sendiri jauh lebih utama bila mungkin.

Hanya saja Islam memang agama yang lengkap. Tak ada satu kesempitan pun yang ja biarkan, kecuali diberikan puta jalan ke luarnya, Sehingga orang tetap dapat menunaikan kewajibannya kepada Tuhan, dan tak punya alasan lagi untuk meninggalkan agamanya di hadapan Allah kelak.Adapun kenapa Islam memberi keringanan kepada musafir untuk cukup mengusap sepatu atau kaus kakinya saja dengan syarat-syarat tertentu, tak lain adalah demi memudahkan mereka dalam memenuhi tujuannya, seperti halnya ketika untuk maksud yang sama la meringkas shalat dan empat menjadi dua rakaat saja.

 YANG MEMBATALKAN

Yang membatalkan mengusap sepatu ketika wudhu ada tiga hal:

1.    Terbuka atau tanggalnya sepatu, kedua-duanya atau salah satunya, baik karena rusak, berlubang atau sebab lain.

2.    Habisnya waktu yang diperkenankan.

3.    Karena terjadinya hal-hal yang mewajibkan mandi, seperti jinabat, haid atau nifas.Jadi apabila terjadi salah satu dan tiga perkara tersebut di atas, maka dalam berwudhu’ wajib membasuh kaki seperti biasa.

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam