Home / dunia islam terkini / hal yang membatalkan puasa baik itu puasa ramadhan atau senin kamis atau puasa-puasa yang lainnya

hal yang membatalkan puasa baik itu puasa ramadhan atau senin kamis atau puasa-puasa yang lainnya

Masalah Kelima

Sakit apakah yang membolehkan seseorang membatalkan puasanya di bulan Ramadhan?

 

Orang sakit dibolehkan berbuka jika dikhawatirkan sakitnya bertambah parah. Bahkan, makruh hukumnya memaksakan diri tetap berpuasa. Para ulama telah sepakat bahwa orang sakit dibolehkan berbuka puasa ketika sakit

.

Allah s.w.t. berfirman,

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
“Jika diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan lalu berbuka, ia wajib berpuasa sebanyak hari yag ditinggalkannya pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Sakit yang membolehkan seseorang berbuka adalah sakit keras, yang dapat bertambah parah jika dia tetap berpuasa.

Seseorang pernah bertanya kepada Imam Ahmad, “Kapan orang sakit dibolehkan tidak berpuasa?”

Beliau menjawab, “Jika dia tidak mampu mngerjakannya.”

Orang itu bertanya lagi,  “Apakah seperti sakit demam?”

Beliau menjawab, “Adakah sakit lain yang lebih parah dari pada sakit demam?’

Sebagian ulama salaf membolehkan seseorang tidak berpuasa jika dia menderita sakit, apapun jenisnya, meskipun hanya jari atau gigi gerahamnya yang sakit, berdasarkan keumuman ayat di atas.

Namun pendapat yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa jika sakit yang dialami seseorang tidak memberatkan dirinya, dia wajib berpuasa.

Kriteria sakit yang dapat menjadi alasan seseorang tidak berpuasa adalah sakit dikhawatirkan dapat mendatangkan bahaya. Dalam kondisi seperti itu, jika seseorang tetap memaksakan diri berpuasa, dia telah melakukan perbuatan makruh, karena perbuatan yang dilakukan itu dapat membahayakan dirinya. Dia dibolehkan meninggalkan puasa, karena hal itu merupakan keringanan dari Allah. Tetapi, jika diberpuasa, dia tetap diberi pahala atas  puasanya itu. Sebab, ibadah puasa merupakan sauatu kewajiban yang bisa ditinggalkan jika ada kesulitan.

Berdasarkan hal ini, pendapat yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa apabila seseorang khawatir sakitnya akan bertambah parah, maka ia dibolehkan berbuka. Jika seseorang memiliki kekhawatiran seperti ini, meninggalkan puasa lebih baik dari pada mengerjakannya.

Dengan kriteria semacam ini, sakit gigi, luka di jari, bisul, luka bernanah, kudis, sakit mata dan penyakit-penyakit sejenisnya, tidak termasuk dalam katagori penyakit-penyakit yang menjadi alas an untuk tidak puasa. Sebab, penyakit-penyakit seperti itu tidak akan memberatkan orang yang berpuasa.

Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Berpuasa dalam perjalan bukan termasuk kebajikan.” (HR.Bukhari- Muslim)

Diriwayatkan pula bahwa ketika Rasulullah sedang keluar pada hari pembebasan kota Mekkah, beliau membatalkan puasanya. Lalu, ketika beliau mendengar ada sebagian orang yang tetap berpuasa, beliau pun bersabda, “Mereka itu durhaka, mereka itu durhaka.” (HR. Muslim)

Bagi orang yang sakit, jika ada harapan sembuh, dia wajib mengganti puasa yang pernah ditinggalkannnya. Namun, jika diagnose dokter mengatakan tidak ada harapan untuk sembuh, dia wajib mengganti puasanya dengan memberi makan kepada satu orang miskin untuk satu hari puasa yang ditinggalkannya.

Allah s.w.t. berfirman, “Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankan puasa membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Ibn Abbas berkata, “Ini merupakan keringanan bagi orang-orang yang sudah tua. Karena, mereka tidak mampu lagi berpuasa. Mereka harus memberi makan satu orang miskin untuk satu hari yang ditinggalkan. Demikian pula puasanya bagi wanita hamil dan menyusui, jika mereka khawatir puasanya dapat berpengaruh pada anak yang sedang dikandung atau disusuinya, ia boleh tidak berpuasa, tetap ia wajib menggantinya dengan membayar fidyah yaitu memberi makan kepada orang miskin.”

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam