Home / dunia islam terkini / HUKUM MENGGAULI ISTERI PADA DUBURNYA

HUKUM MENGGAULI ISTERI PADA DUBURNYA

Dengan alasan apa pun tetap tidak diperbolehkan menggauli isteri pada duburnya. Itu tetap haram hukumnya sekalipun fihak isteri rela itu dilakukan. Bahkan dengan demikian la berarti sama-sama berdosa.

Adapun dalil Al-Qur’an mengenai pengharaman perbuatan ini adalah firman Allah Ta’ala dalam Q.S. Al-Baqarah 2:222:

Artinya:

“Maka campurilah mereka (isteri-isterimu) itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu”.

Sedang dari Hadits, adalah riwayat dan Rasulullah saw. Bahwa beliau pernah bersabda:

Artinya:

“Janganlah kamu mendatangi isteri-isteri(mu) pada dubur mereka” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi, dan para perawinya tsiqat).

A’jaaz jamak dari ‘Ajz. Adbaar jamak dari Dubur. Maksudnya sama, yaitu jalan tinja.

Dan juga hadits riwayat dan Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

Artinya:

“Terkutuklah orang yang mendatangi isteri pada duburnya“ (H.R. Ahmad dan Ashhaab As-Sunan).

 

hukum mendatangi

 

Larangan itu sudah berarti dilanggar, bila seseorang memasukkan kepala zakarnya ke dalam lingkaran dubur. Adapun sekedar bersentuhnya zakar dengan lingkaran tersebut tanpa memasukkannya, tidaklah terlarang. Namun demikian, barangsiapa yang main-main dekat kebun, sangat dikhawatirkan ia terjerumus ke dalamnya.

Akan tetapi tak apa bila seorang lelaki mendatangi isterinya dari arah dubur, asal persetubuhan itu dilakukan tetap ada farjinya. Karena Allah Ta’ala pun menfirmankan:

Artinya:

“Isteri-isterimu adalah (seperti lahan tempat kamu bercocok tanam. Maka datangilah lahan tempatmu bercocok tanam itu dengan cara apapun yang kamu kehendaki” (Q.S. Al-Baqarah 2:222)

Maksudnya, boleh dari depan atau belakang, selagi persetubuhan dilakukan pada tempat keluarnya keturunan.

Bahkan menurut hadits, bahwa Umar bin Khatthab ra. Pernah memberitahu Rasulullah saw. bahwa dia telah menyetubuhi isterinya bukan dari arah farjinya, dengan mengatakan:

Artinya:

“Telah saya belokkan arah kendaraanku semalam.”

Maka sabda Rasulullah saw. kepadanya:

Artinya:

“Boleh Anda lakukan dari depan atau dari belakang, tapi hati-hatilah jangan Anda lakukan ketika haid maupun pada dubur” (Lihat hadist ini pada Musnad Imam Ahmad).

Hal yang tak perlu diragukan ialah, bahwa persetubuhan yang dilakukan pada dubur wanita tak kalah bahayanya dengan menyetubuhinya ketika dalam keadaan haid atau nifas. Maka hendaklah kaum lelaki berhati-hati, jangan sampai terjerumus ke arah itu hingga larangan Allah Rabbul ‘Alamin diterjangnya jua. Dan begitu pula kepada kaum wanita agar menghindarkan dari padanya, meski dipaksa berkali-kali oleh suaminya. Siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan yang menyukai perbuatan mesum seperti ini, berarti telah terlepas dan peri kemanusiaan yang luhur dan terpelanting dan prinsip-prinsipnya, dan berubahlah jiwanya menjadi binatang.

Bahkan seharusnyalah bagi manusia untuk membatasi syahwatnya dan menguasai diri, sehingga jiwanya menjadi bersih, perasaannya tajam dan jernih fikirannya. Karena keterlaluan dalam meni’mati sesuatu membuat hati jadi kasar, semakin jauh dari Tuhan dan merasa berat dalam menunaikan kewajiban-kewajiban. Jadi orang yang berakal ialah orang yang mengambil bahagiannya dari dunia tapi iapun tahu tabiat dunia itu, dan tetap ingat akan ancarnan-ancaman akhirat dalam keadaan bagaimana pun. Dan bahwa Allah tetap mengawasi setiap detikan hatinya.

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam