Home / dunia islam terkini / Hukum puasa wishol

Hukum puasa wishol

Masalah kedua puluh tiga

Apa hukum puasa wishal

Yang dimaksud dengan puasa wishal adalah puasa yang dilakukan dengan cara menyambung antara puasa yang dilakukan dengan cara menyambung puasa siang hari dengan puasa malam hari. Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w telah melarang puasa ini. Seorang lelaki muslim berkata, “anda juga melakukan puasa wishal Rasulullah. “ Rasulullah s.a.w bersabda, “Adakah di antara kalian orang sepertiku ? sungguh, aku selalu bermalam dalam keadaan Tuhanku memberi makan dan minum kepadaku.”

Ketika para sahabat enggan menghentikan puasa ini, Rasulullah s.a.w mengajak mereka berpuasa wishal hari demi hari. Kemudian ketika mereka melihat hilal, Rasulullah s.a.w bersabda, “ apakah jika hilal datang terlambat, kalian akan tetap meneruskan puasa ini ?” dari sabdanya itu, terlihat bahwa seakan akan Nabi s.a.w mengingkari perbuatan mereka, yaitu ketiak mereka enggan untuk menghentuikan puasa wishal (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Puasa seperti itu tidak bisa dilakukan oleh seorang pun kecuali Nabi s.a.w yang telah dipenuhi oleh kecintaan sejati kepada Allah s.w.t, serta memiliki hubungan yang kuat denganNya, sehingga allah memberi makan kepadanya berupa berbagai pengetahuan dan menanamkan kedalam hatinya kenikmatan bermunajar dan rindu kepada-Nya yang merupakan makanan hati dan kenikmatan ruh. Dengan makanan seperti itu Rasulullah tidak membutuhkan lagi makanan bagi tubuhnya selama jangka waktu tertentu.

Sabda Nabi s.a.w. “Sungguh aku selalu bermalam dalm keadaan Tuhanku memberi makan kepadaku.” Tidak mengandung maksud bahwa Allah telah memberi makan dan minum kepada Nabi melalui mulut. Sebab, jika hal itu terjadim berarti Nabi s.a.w tidak berpuasa. Beliau melarang umatnya berpuasa wishal karena akan memberatkan mereka. Sedangkan, mengenai adanya sebagian ulama Salaf yang berpuasa wishal, ada kemungkinan hal itu disebabkan mereka belum mendengar larangan Nabi s.a.w. tersebut.

Selain itu, ada pula sebagian ulama yang berpuasa demikian-padahal bertentangan sunah nabi-dengan berpedoman pada hasil penafsiran dan ijtihad mereka. Mereka akan mendapatkan satu pahala sebagai balasan atas ijtihadnya. Sedangkan, bagi yang sudah mengetahui dalil dari perbuatan tersebut, maka tidak diperbolehkan melakukan perbuatan yang bertetntangan dengan sunah Nabi itu dalam riwayat lain.

jadi puasa wishol merupakan puasa yang terlarang sebab puasa tersebut hanya dilakukan Nabi SAW dan tidak boleh dilakukan oleh ummatnya, namun Nabi SAW jika ingin melakukan puasa yang menyerupai puasa wishol yaitu melakukan puasa daud maka hal itu tuidak apa-apa dan hukum puasa daud adalah sunnah, dan puasa tersebut pernah dilakukan Nabi daud as.

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam