Home / dunia islam terkini / HUKUM WANITA JADI IMAM DALAM SHALAT

HUKUM WANITA JADI IMAM DALAM SHALAT

WANITA JADI IMAM

Wanita sama sekali tidak sah untuk menjadi imam laki-laki, tapi sah saja mengimami sesama kaum wanita. Dalam hal ini telah kita terangkan bahwa Siti ‘Aisyah ra. pernah jadi imam memimpin jamaah wanita dengan cara berdiri dalam shaf mereka. Dan demikian pula yang telah dilakukan Ummu Salamah ra.

jari hadits tersebut menunjukkan bahwa imam wanita dalam shalat itu tidak apa apa asal makmumnya tidak laki-laki. sedangklan makna tersirat dari hadits tersebut bahwa syarat menjadi seorang imam haruslah orang yang mempunyai pengetahuan ilmu agama yang memumpuni, dan masih banyak lainnya.

Bahkan Rasulullah saw. pernah menyuruh seorang lelaki menjadi mu’adzdzin bagi Ummu Waraqah, lalu menyuruh wanita itu menjadi imam memimpin jamaah dalam keluarganya untuk shalat-shalat fardhu.

Jadi kalau ada rumah yang cukup luas memuat banyak wanita, sedang mereka ingin mengadakan shalat jamaah, maka hal itu boleh mereka lakukan dengan syarat imamnya jangan berdiri di depan, tapi tetap dalam shaf mereka.

Kemudian perhatikanlah pendapat para Fuqaha mengenai keimaman wanita dalam shalat:Para Ulama Maliki berpendapat, wanita tetap tak boleh menjadi imam, baik dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah, baik ma’mum laki-laki maupun perempuan.

Sedang para Ulama Hanafi berpendapat, bahwa wanita boleh saja menjadi imam sesamanya, dan shalat dari kaum wanita yang menjadi ma’mum itu sah sekalipun makruh tahrim.Dari perbedaan pendapat para Ulama di atas kiranya jelas, bahwa keimanan wanita itu sebenarnya boleh saja dalam jamaah wanita sesamanya, tapi tidak boleh terhadap.kaum lelaki.

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam