Home / dunia islam terkini / ISTIHDAD atau mencukur dan membersihkan bulu kemaluan

ISTIHDAD atau mencukur dan membersihkan bulu kemaluan

Yang dimaksud disini ialah membersihkan rambut kemaluan. Disebut istihdad karena biasanya dengan menggunakan alat cukur bulu kemaluan  dengan besi (pisau cukur). Besi dalam bahasa Arabnya “hadiid”.

Menurut mufakat para Ulama, istihdad hukumnya sunnah, selain merupakan kebersihan yang memelihara seseorang dari berbagai macam penyakit dan radang. Karena rambut itu letaknya memang bertetangga dengan kemaluan. Maka bisa saja najis menempel di sana kemudian menjadi sarang bibit-bibit penyakit.

“Al-’Anat” yang disuruh hadits membersihkan/menghilangkan bulu kemaluan , yang dimaksud ialah rambut yang tumbuh di sekitar kemaluan. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud ialah rambut yang tumbuh di sekitar lingkaran dubur. Tapi yang penting kedua-duanya patut dibersihkan.

Dan yang dituntut ialah agar rambut itu hilang. Adapun cara mencukur bulu kemaluan , apakah dengan dicabut ataukah cukup dicukur, itulah yang menjadi perselisihan pendapat di antara para Ulama. Sebagian ada yang mengatakan, lebih utama bagi wanita agar mencabut rambut kemaluannya. Karena yang demikian itu lebih bersih, lagi pula kemaluan lelaki tak suka terhadap sisa-sisa cukuran. Dan juga bahwa syahwat perempuan itu sekian kali lipat syahwat lelaki. Jadi dengan mencabut rambut kemaluannya, syahwatnya akan bisa terkurangi, sedang kalau dicukur akan semakin kuat.

Bahkan apakah harus dicukur ataukah dicabut, sebenarnya sekarang sudah bukan masalah lagi. Karena di pasar-pasar telah dijual orang bedak khusus, yang setelah beberapa saat diusapkan pada rambut, maka rambut itu akan mudah dicabut atau rontok sendiri tanpa menemui kesulitan.

Tentang waktu pencabutan, tak ada waktu mustahab yang ditentukan. Hanya sebaiknya jangan sampai melebihi 40 hari belum juga dibersihkan lagi. Dan bersamaan dengan itu, sekalian dicabuti pula rambut ketiak dan memotong kuku:

Menurut Hadist Riwayat Ahmad, Muslim dan Ibnu Majah yang artinya

“Dari Anas bin Malik ra. katanya: “Waktu yang ditentukan bagi kami untuk mencukur kumis, memotong kuku, mencabut rambut ketiak dan mencukur rambut kemaluan, ialah agar jangan sampai kami biarkan semua itu lebih dari empat puluh malam”.

 

Dalam hal itu perlu diingat bahwa, haram bagi wanita untuk mencabut rambut kemaluannya di depan wanita lain, atau mengizinkan wanita lain mencabutkannya. Dan rupanya ini banyak dilakukan wanita-wanita yang kurang pendidikan di kampung-kampung dan dusun-dusun terpencil yang jauh dari penerangan agama. Mereka tidak tahu bahwa Islam melarang wanita memperlihatkan auratnya meski kepada sesama wanita. Dan begitu pula lelaki kepada sesamanya. Yang diboleh kan hanyalah suami memperlihatkan auratnya kepada isterinya atau sebaliknya. Hal inilah yang pernah dijawab oleh Rasulullah saw. Ketika seseorang bertanya kepada beliau:

Dalam H.R. Ahmad dan Abu Daud dari Mu’awiyah bin Haidah yang artinya:

‘Manakah dari aurat-aurat kami yang boleh kami lihat, dan manakah yang tak boleh?”

Maka jawab Nabi: “Peliharalah auratmu, kecuali terhadap isterimu atau hamba sahayamu”.

 

Yang dimaksud hamba sahaya (maa malakat yamiinuka) di sini iaIah hamba sahaya perempuan. Tapi Alhamdulillah, jaman perbudakan kini telah lama berakhir.

 

Artinya:

“Dan dari Abu Sa‘id Al-Khudri ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: boleh lelaki melihat aurat lelaki lain, begitu pula perempuan melihat aurat perempuan lain. Dan tak boleh lelaki tidur satu selimut dengan lelaki lain, dan begitu pula perempuan tidur satu selimut dengan perempuan lain. (H.R. Ahmad dan Muslim)

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam