Home / dunia islam terkini / KEADAAN WANITA MUSTAHADHAH DALAM PANDANGAN ISLAM

KEADAAN WANITA MUSTAHADHAH DALAM PANDANGAN ISLAM

 

Penderita istihadhah bisa kita golongkan ke dalam empat keadaan:

  1. Mubtadi’ah Mumayyizah, baru mengalami mengeluarkan darah, tapi sudah pandai membedakan jenis darah. Sehingga ia tahu hari ini ía mengeluarkan darah kuat, dan hari yang lain darah lemah.

Dalam keadaan demikian, ketahuilah bahwa darah yang lemah itulah darah istihadhah, sedang yang kuat itu darah haid, asal keluarnya tidak kurang dari masa haid yang terpendek dan tidak melebihi masa haid yang terpanjang.

 

  1. Mubtadi’ah Ghairu Mumayyizah, wanita yang menganggap sama darah yang ke luar dari rahimnya, tanpa dapat membeda-bedakan.

Dalam keadaan demikian, haid wanita ini dianggap hanya sehari semalam, sedang sisa bulan itu (29 hari) adalah suci.

 

  1. Mu’tadah Mumayyizah, pernah mengalami haid sebelumnya, lalu suci, dan dia tahu persis kadar haid yang ke luar dan berapa hari dia suci.

Dalam keadaan demikian, hendaknya ia berpegang pada ukuran dan waktu haid yang baru saja ia alami; dengan catatan bahwa pengalaman haid sekalipun baru sekali, sudah bisa dianggap adat (kebiasaan) yang patut dijadikan pedoman.

 

  1. Mu’tadah Ghairu Mumayyizah, pernah mengalami haid tapi tak mampu membedakan, bahkan pada saat ke luar darah kali ini pun ia menganggap sama, tak ada perbedaan di antara darah-darah yang ke luar tiada hentinya itu. Ia tak mengerti mana darah haid dan mana yang istihadhah.

Bagi dia, hendaklah berpegang pada pengalamannya (adat) yang telah lewat. Karena menurut riwayat Ummu Salamah:

Artinya:

“Bahwa seorang perempuan mengeluarkan darah begitu deras pada masa Rasulullah saw. Maka saya tanyakan hal itu kepada Rasulullah saw. yang beliau jawab: “Wanita itu supaya mengingat-ingat berapa malam dan hari haid yang pernah dia alami pada bulan lalu sebelum dia menderita istihadhah. Maka tinggalkanlah olehnya shalat sepanjang hari-hari itu tiap bulan.” -Dikeluarkan oleh Malik, An-Nasa‘i, Abu Daud dan Al-Baihaqi, dan oleh A t- Tirmiddzi dinilai Hasan. –

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam