Home / dunia islam terkini / KEBERSIHAN TUBUH, TEMPAT DAN PAKAIAN dan HARUS DIHILANGKAN

KEBERSIHAN TUBUH, TEMPAT DAN PAKAIAN dan HARUS DIHILANGKAN

 

Dalam menunaikan shalat, tubuh, pakaian maupun tempat sholat wajib membersihkan/menghilangkannya  terlebih dahulu tempat sholat, atau pakaian kita  dari najis. Artinya kalau tubuh, pakaian dan tempat kita sholat  terkena terkena najis, sedang kita tahu dan mampu menghilangkan najis tersebut  tapi tidak juga kita hilangkan, maka shalat kita tidak sah/batal. Mengenai kebersihan pakaian, hal itu ditunjukkan dalam Kitab Allah pada firrnan-Nya yang Artinya:

“Dan pakaianmu bersihkanlah” (Q.S. Al-Muddatstsir 74:4)

 

Dan sabda Rasuluflah saw. dalam sebuah hadits:

Artinya:

“Bersihkanlah (pakaianmu) dari kencing, karena siksa kubur itu umumnya akibat tidak bersih dari padanya” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah)

 

Akan tetapi sahkah shalat seseorang dengan pakaian yang baru dipakainya dalam bersetubuh?

Jawabnya: sah, kecuali bila terdapat sesuatu najis padanya, karena dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dan Mu’awiyah ra. Yang Artinya:

 

“Pernah saya tanyakan kepada Ummu Habibah ra. (isteri Rasulullah saw.): “Apakah Nabi saw. tetap shalat dengan pakaian yang baru dipakainya dalam mengumpuli isterinya?”

Jawab Ummu Habibah: “Ya, apabila tak ada suatu kotoran padanya” (H.R. Ahmad, Abu Daud dan An-Nasa’i)

 

Dan begitu pula menurut riwayat dan Jabir bin Samurah ra. Yang Artinya:

“Pernah saya mendengar seseorang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Bolehkah saya shalat dengan pakaian yang saya pakai mengumpuli isteriku?” Jawab Nabi: “Ya, kecuali bila kamu lihat ada sesuatu (najis) padanya, maka harus kamu cuci”. (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah)

kebersihan

Adapun mengenai kebersihan tempat, banyaklah hadits-hadits yang membicarakannya, antara lain ialah hadits mengenai seorang Badwi yang kencing di mesjid:

Anas bin Malik menceritakan: Ketika itu kami sedang berada di mesjid bersama Rasulullah saw. Tiba-tiba datanglah seorang Badwi. La berdiri lalu kencing di mesjid. Melihat itu sahabat-sahabat Rasulullah saw. menghardik, “Berhenti, berhenti!”

Akan tetapi Rasulullah saw. menyuruh mereka membiarkan: “Jangan putuskan kencingnya! Biarkan dia!”.

Para sahabat pun membiarkan orang itu hingga selesai kencing. Kemudian dipanggillah ia oleh Nabi saw. seraya sabdanya kemudian:

 

Artinya:

“Sesungguhnya mesjid-mesjid ini sedikitpun tak boleh dikencingi seperti ini, dan juga tak boleh dikotori. Akan tetapi hanyalah untuk berdzikir kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, shalat dan membaca AI-Qur’an”.

 

Sesudah itu salah seorang diperintahkan Nabi saw. untuk menyiram kencing tersebut. Maka datanglah orang itu membawa seember air, lalu disiramkan ke atasnya. (H.R. Muslim)

Kemudian mengenai kebersihan tubuh, Rasulullah saw. juga bersabda:

Artinya:

“Sucikanlah tubuh-tubuh(mu) ini, -maka Allah akan mensucikan kamu. Karena tak seorang hamba pun yang tidur dalam keadaan suci, kecuali ikut bermalam pula seorang malaikat di tempat tidurnya. Tidak terlewat sesaatpun ketika orang itu membalikkan tubuhnya, kecuali malaikat itu mendoakan dia: “Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini, karena ia tidur dalam keadaan suci”. (H.R. Ath-Thabrani dari Ibnu ‘Abbas)

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam