Home / dunia islam terkini / kebiasaan yang bertentangan dengan sunnah Nabi SAW

kebiasaan yang bertentangan dengan sunnah Nabi SAW

Masalah keempat puluh delapan

Kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan dengan sunnah Nabi

 

   Pertama, shalat sunnah dua puluh tiga rakaat atau lebih. Shalat seperti ini memang dibolehkan, akan tetapi hal tersebut bertentangan dengan sunah Nabi Muhammad. Sebab, Nabi s.a.w. tidak pernah mengerjakan shalat lebih dari sebelas rakaat baik di bulan Ramadhann maupun di bulan-bulan lainnya. Ketahuilah bahwa shalat sebelas rakaat yang dilakukan dengan khusyu’ lebih baik daripada shalat dua puluh tiga rakaat yang dilakukan dengan terburu-buru.

Kedua, melakukannya shalat tarawih, di awal waktu malam atau setelah shalat Isya, kemudian melakukan shalat mala sebelum sahur. Sebagaimana telah dijelaskan di awal buku, tindakan ini tidak pernah dicontohkan Nabi s.a.w., para sahabat ataupun para tabi’in.  tidak ada satu hadis shahih pun yang berkaitan dengan masalah tersebut. Oleh karena itu, yang terbaik dalam hal ini adalah megetahui sunah Rasulullah s.a.w. mengerjakan shalat tarawih saja atau shalat malam saja. Orang yang ingin mengerjakan salah satunya di rumah, hal itu lebih baik baginya.

Ketiga, membaca doa khatam al-Qur’an setelah shalat tarawih. Dalam hal itu, tidak ada satu riwayat pun yang menjelaskan bahwa Rasulullah pernah membaca doa khatam al-Qur’an, dan tidak ada satu riwayat shahih pun yang berasal dari salah seorang sahabat Rasulullah. Tindakan itu merupakan bid’ah.

Keempat, mengerjakan shalat witir dua kali dalam satu malam. Perbuatan tersebut merupakan hal yang bertentangan dengan Sunah Rasulullah. Beliau bersabda, “Tidak ada witir dua kali dalam atu malam.”

Sebagian orang mengerjakan sahalat witir setelah selesai shalat tarawih, kemudian mereka mengerjakan shalat witir kembali setelah mngerjakan shalat malam. Sungguh, mereka telah melakukan kesalahan. Sebab, seharusnya mereka hanya mengerjakan shalat witir setelah shalat tarawih saja atau setelah shalat malam saja.

Kelima, membaca al-Qur’an dengan terburu-buru dengan tujuan cepat khatam, tanpa mau merenungi apa yang dibaca. Dalam hal ini, banyak imam yang saling berlomba-lomba menentukan siapa diantara mereka yang lebih dulu menyelesaikan al-Qur’an. Seakan-akan perbuatan tersebut merupakan perbuatan wajib. Ini merupakan anggapan yang salah, karena yang harus dilakukan adalah merenungi ayat-ayatnya dan buka ingin cepat selesai.

Keenam, sikap berlebih-lebihan dalam berdoa ketika seang shalat tarawih, berlebih-lebihan dalam berdiri, menggunakan kata-kata bersajak, memperindah ungkapan, memperpanjang shalat ketika sedang menjadi imam dan memperlihatkan tangisan. Hal-hal tersebut merupakan hal-hal yang dapat mengurangi kekhusuan seseorang serta bertentangan dengan Sunah Rasullah s.a.w. sebab, Rasulullah mengajarkan agar kita memperpendek bacaan doa,  menggunakan kata-kata yang sederhana, menghindari sikap berlebih-lebihan, serta menjauhkan diri dari sikap sombong dan riya.

Mungkin ada sebagian imam shalat yang menggunakan ungapan yang tiak terdapat dalam Sunah Rasulullah dan tidak pernah digunakan oleh kaum Salaf yang saleh. Bahkan ungkapan-ungkapan tersebut tidak sesuai dengan syariat, tidak pantas untuk diucapkan di masjid ataupun dibaca dalam shalat tarawih dan doa witir.

Selain itu, di antara kebiasan yang dianggap bertentangan dengan Sunah adalah perbuatan sebagian imam yang meniru suara orang lain serta sikap berlebih-lebihan dalam melakukan hal itu. Hal itu merupakan perbuatan mencontoh orang lain atau perbuatan yang dilarang. Sebab, perbuatan semacam itu merupakan perbuatan yang tidak disukai oleh jiwa dan hati manusia. Dalam hal ini, seorang imam hendaknya membaca al-Qur’an dengan suara aslinya yang telah dikarunia oleh Allah.

 

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam