Home / dunia islam terkini / Kifaroh bagi orang yang berhubungan dengan istrinya di siang hari dibulan ramadhan ketika berpuasa

Kifaroh bagi orang yang berhubungan dengan istrinya di siang hari dibulan ramadhan ketika berpuasa

 

Masalah ketiga puluh delapan

Apa sanksi bagi orang yang bersenggama di siang hari Ramadhan?

 

Orang yang berhubungan badan  pada siang hari di bulan ramadhan dikenai dua kewajiban, yaitu kewajiban mengganti shalatnya dan kewajiban membayar denda.

Abu Hurairah r.a. berkata “Seorang laki-laki pernah mendatangi Nabi s.a.w., kemudian dia berkata, ‘Aku telah celaka, wahai Rasulullah.’ Rasulullah bersabda, ‘Apa yang membuatmu celaka?’ Dia menjawab, ‘Aku telah berhubungan badan dengan istri ku di bulan Ramadhan.’ Rasulullah s.a.w. bersabda, ‘Apakah kamu memiliki harta yang dapat digunakan untuk membebaskan seorang budak ?’ Dia menjawab, ‘Tidak.’ Rasulullah s.a.w. bersabda, ‘Apakah kamu memiliki harta yang dapat digunakan untuk memberi makan kepada 60 orang miskin ?’ Dia menjawab, ‘Tidak.’ Orang itu pun duduk, lalu Nabi s.a.w. memberikan kepadanya, ‘Sedekahkanlah ini.’ Orang itu menjawab, ‘Apakah aku harus mensedekahkannya kepada orang yang lebih miskin dari kami? Tidak ada satu keluarga pun di daerah kami yang lebih miskin dari pada kami’ Mendengar itu, Nabi pun tertawa hingga gigi gerahamnya terlihat. Lalu dia bersabda, ‘Pergilah, dan berilah kurma itu kepada keluargamu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Jumhur ulama berpendapat bahwa seorang laki-laki dan perempuan memiliki kewajiban yang sama dalam membayar denda jika mereka melakukan hubungan badan pada siang hari di bulan Ramadhan dengan sengaja, atas dasar suka sama suka, dan telah berniat untuk mengerjakan puasa.

Tetapi jika mereka melakukan itu karena lupa, tidak atas dasar suka sama suka, atau karea terpaksa, atau jika mereka melakukan hal itu tetapi mereka belum berniat untuk mengerjakan puasa, maka tidak diwajibkan membayar denda.

Sedangkan, jika seorang waktu dipaksa lelaki untuk berhubungan badan dengannya, atau jika pada saat berhubungan badan, wanita itu sedang tidak berpuasa karena ada alasan tertentu, maka denda itu hanya diwajibkan kepada pihak laki-laki dan tidak diwajibkan kepada pihak wanita.

Menurut madzhab Syafi’I, seorang wanita tidak diwajibkan membayar denda secara mutlak, baik dia melakukan hubungan badan itu dasar kemaunnya sendiri ataupun karena diaksa. Dia hanya diwajibkan untuk mengganti puasanya.

Sebagian ulama berkata, “Pendapat yang paling benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa kewajiban membayar denda itu hanya dikhususkan untuk laki-laki. Jadi, tidak ada kewajiban sedikit pun bagi wanita. Karena denda merupakan kewajiban mengelurakan harta, di mana kewajiban tersebut berkaitan dengan aktivitas berhubungan badan. Oleh karena itu, kewajiban tersebut hanya dibebankan kepada pihak laki-laki dan tidak kepada pihak wanita. Dalam hal ini, kewajiban tersebut adalah seperti kewajiban membayar mahar.”

Abu Daud berkata, “Imam Ahmad pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang menggauli/berjima’ dengan istrerinya di bulan Ramadhan saat puasa , apakah dia wajib membayar denda? Imam Ahmad pun menjawab,’Aku tidak pernah mendengar bahwa seorang wanita diwajibkan untuk membayar denda.”

Dalam kitab al-Mughni, Imam Ahmad menjelaskan, “Alasan mengapa kewajiban itu hanya dibebankan kepada laki-laki adalah karena Nabi s.a.w. telah memerintahkan kepada laki-laki yang telah berhubungan badan di bulan Ramadhan saat puasa untuk memerdekakan budaknya, tetapi nabi tidak memerintahkan kepada isteri laki-laki tersebut untuk melakukan apapun, meskipun Nabi mengetahui perbuatan itu juga dilakukan oleh wanita tersebut.”

Menurut jumhur ulama, denda itu harus dilakukan secara berurutan yang telah disebutkan dalam hadis di atas.

Oleh karena itu, seorang lelaki yang telah melakukan perbuatan tersebut harus memerdekakan budak terlebih dahulu. Jika dia tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut, jika tidak mampu pula, maka dia harus memberi makan kepada 60 orang miskin dengan makanan yang biasa dimakan oleh keluarganya. Dengan demikian, dia tidak boleh berpindah dari satu kewajiban ke kewajiban yang lain kecuali jika tidak mampu melakukan kewajiban yang lebih dahulu disebutkan.

Sedangkan, menurut mazhab Maliki dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad, laki-laki itu dibolehkan memilih salah satu dari ketiga kewajiban yang disebutkan dalam hiids tersebut,  jika salah satu dari ketiganya dia lakukan, dia akan diberi pahala. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Malik dan Juraij dari Hamaid ibn Abdurrahman dari Au Hurairah bahwa ada seorang laki-laki yang tidak berpuasa pada bulan Ramadhan. Maka, Rasulullah s.a.w. pun memerintahkan kepadanya untuk memerdekakan budak, atau berpuasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan kepada 60 miskin.

Kata atau dalam hadis tersebut menunjukan adanya kebebasan memilih. Sebab, pada dasarnya denda itu diwajibkan karena adanya pelanggaran. Oleh karena itu, denda itu pun harus dilakukan atas dasar pilihan orang yang melakukanna, seperti layaknya denda yang dibebankan kepada orang yang melanggar sumpah.

Menurut para pengikut Imam Hanafi dan menurut salah satu riwayat dari  Imam Ahmad, jika seseorang berhubungan badan secara sengaja pada siang hari, lalu ketika dia belum membayar denda, dia berhubungan badan lagi pada hari yang lain, maka  dia hanya diwajibkan untuk membayar satu kali denda. Sebab pada hakikatnya, denda itu merupakan hukuman yang diberikan kepadanya karena dia telah melakukan satu perbuatan criminal yang diulanginya padahal dia belum menjalani hukuman tersebut. Oleh karena itu, hukuman itu pun dijadikan menjadi satu.

Sedangkan menurut Imam Malik, Imam Syafi’I dan Iamam Ahmad, orang tersebut harus membayar dua kali denda, karena satu hari puasa merupakan ibadah yang terpisah. Oleh karena itu, jika seseorang telah mewajibkan membayar denda karema dia telah merusak puasanya, maka denda itu tidak dapat digabungkan dengan denda lainnya, sebagaimana satu bulan Ramadhan tidak dapat digabungkan dengan Ramdhan lainnya.

Akan tetapi, selama ulama itu sepakat bahwa jika seorang muslim berhubungan badan pada siang hari di bulan Ramadhan, kemudian setelah membayar denda, dia berhubungan badan lagi pada hari yang lain, maka dia diwajibkan untuk membayar denda lagi. Selain itu, mereka juga sepakat bahwa jika seorang muslim berhubungan badan sebanyak dua kali dalam satu hari, padahal dia belum membayar denda untuk perbuatannya yang pertama, dia hanya diwajibkan membayar satu denda. Sedangkan, jika dia sudah membayar denda untuk perbuatan yang pertama, maka menurut mayoritas ulama, dia tidak diwajibkan membayar denda untuk perbuatannya yang kedua. Tetapi menurut Imam Ahmad, orang tersebut tetap diwajibkan membayar denda yang kedua.

 

Incoming search terms:

  • berhubungan dibulan puasa

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam