Home / dunia islam terkini / LARANGAN MERATAP DAN MENYESALI MAYAT MENURUT AJARAN ISLAM

LARANGAN MERATAP DAN MENYESALI MAYAT MENURUT AJARAN ISLAM

meratapi mayit berikut merupakan hadits tentang kematian seseorang dan larangan meratapi maupun menyesali mayit :

Artinya:

‘Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Tidaklah termasuk golongan kita orang yang memukuli pipi, merobek-robek leher baju dan berdoa seperti doa orang-orang Jahiliyah (atas kematian seseorang)”. (Muttafaq ‘Alaih)

Artinya:

“Dan dari Abu Bardah ra. ia berkata: “Abu Musa menderita sakit sampai pingsan, dan kepalanya terletak di pangkuan seorang perempuan dari keluarganya. Seorang perempuan lain dari keluarganya menjerit-jerit hingga sedikit pun tak dapat dicegah. Maka tatkala Abu Musa siuman kembali, katanya: “Aku berlepas diri dari orang yang Rasulullah saw. berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Rasulullah saw. Berlepas diri dari perempuan yang menangis menjerit-jerit, mencukur rambutnya dan merobek-robek pakaiannya (atas musibah yang menimpa)”. (Muttafaq ‘Alaih)

Artinya:

“Dari Abu Malik Ai-Asy’ani ra. bahwa Nabi saw. bersabda: “Ada empat perkara Jahiliyah di kalangan umatku yang tak mau mereka tinggalkan: bermegah dengan pangkat, mencela nasib orang lain, meminta hujan pada bintang-bintang dan meratapi mayat.

Dan sabdanya: “Orang yang meratap bila tak mau tobat sebelum meninggal dunia, maka pada hari kiamat ia akan dibangkitkan dengan mengenakan pakaian ter dan baju kudis”. (H.R. Ahmad, Muslim dan Al-Hakim, serta dinilai shahih dan hasan oleh At-Tirmidzi)

Dengan demikian jelaslah bahwa Islam benar-benar melarang orang meratapi keluarga yang meninggal dunia, seperti kata-kata: “Duh juita, duh penolong, duh pembela, duh pelindung, duh dst”. Dan demikian pula terlarang memukuli muka dan merobek-robek pakaian. Karena semua itu adalah perbuatan Jahiliyah.

namun jika kita sekedarnya saja artinya tidak terlalu sangat dalam meratapi misalnya menangis saja maka hal itu diperbolehkan dalam islam sebab Rosululloh saw  pun pernah menangis tatkala keluarga atau sahabatnya meninggal. oleh karena itu menangis ketika keluarga kita ada yang meninggal itu tidak apa-apa dalam islam asal menangisnya tidak sangat-sangat.

Bagi wanita muslimat hendaknya menyerahkan segala-galanya kepada Allah, dan ucapkanlah:

“Innalillahi wainnaa ilaihi raaji’uun”

Artinya:

“Sesungguhnya kita ini milik Allah, dan kepada-Nya kita semua bakal kembali.”

Buanglah jauh-jauh kebiasaan-kebiasaan seperti di atas. Karena dengan berserah diri kepada Allah dan bersabar, berarti kita tetap berpegang teguh dengan ajaran Islam, dan merupakan petunjuk atas keseimbangan berfikir. Jadi terimalah segala keputusan Allah dengan hati yang redha. Karena memang tidak ada seorang pun di dunia ini yang bakal langgeng, betapa pun panjang umurnya dan tinggi pangkatnya.

oleh karena itu dari pada kita meratapi keluarga kita yang telah meninggal lebih baik kita mendoakan si mayit  dengan doa-doa tahmid, doa tahlil atau yang lainnya, dan mungkin dengan doa untuk si mayit tersebut bisa  meringgankan saudara seiman kita atau kluarga yang telah meninggalkan kita lebig dahulu.

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam