Home / dunia islam terkini / MASALAH-MASALAH SEPUTAR BERSUCI DAN MANDI

MASALAH-MASALAH SEPUTAR BERSUCI DAN MANDI

MASALAH 1:

Untuk mandi jinabat/junub dan haid bagi orang laki-laki dan perempuan cukuplah mandi sekali saja dengan satu niat sekaligus. Akan tetapi mandi sebelum shalat Jum’at dan ‘Id tidaklah cukup memadai untuk menghilangkan jinabat, haid maupun nifas. Karena mandi jinub, haid dan nifas itu hukumnya wajib, sedang mandi Jum’at dan ‘Id itu hukumnya sunnah. Yang sunnah belumlah mencukupi yang wajib. Sebaliknya yang wajib bisa meliputi yang sunnah.

 

MASALAH 2:

Bolehkah orang lelaki berwudhu’ dengan sisa air yang telah dipakai bersuci oleh wanita?

berikut merupakan dalil berwudhu dengan air bekas pakai bersuci :

Yang benar itu tidak boleh, karena Rasulullah saw. bersabda dalam sebuah hadits riwayat Al-Hakam bin ‘Amr Al-Ghifari:

Artinya:

“Bahwa Rasulullah saw. melarang orang lelaki berwudhu’ dengan sisa air yang telah dipakai bersuci orang wanita”

 

Menurut Asy-Syaukani, hadits ini menunjukkan bahwa laki-laki tidak boleh berwudhu’ dengan sisa air yang telah dipakai wudhu’ oleh orang wanita. Dan yang sependapat dengan ini ialah Abdullah bin Sirjis Ash-Shahabi. Sedang oleh lbnu Hazm pendapat ini dinisbatkan pula kepada Al-Hakam bin ‘Amr perawi hadits di atas, dan kepada Ummul Mu’minin Juwairiyah, Ummu Salamah dan Umar bin A1-Khaththab. Dan demikian pula pendapat Sa’id bin Al-Musayyib, Hasan Al-Bashri dan juga Ahmad dan Ishaq. (Nail Al-Authar 1:51)

Hanya dalam “Fath Al-Bari” Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar mengartikan nahyi atau larangan yang terdapat dalam hadits di atas sebagai “tanziih”. Karena memang ada hadits-hadits lain yang membolehkan, al:

Artinya:

“Dan Ibnu Abbas ra. bahwa Rasululíah saw. pernah mandi dengan sisa air dari Maimunah” (H.R. Ahmad dan Muslim)

 

Maka berkatalah Asy-Syaukani dalam Nail Al-Authar: “Kebanyakan para Ulama memberi rukhshah atau keringanan pada saat terpaksa kepada orang lelaki untuk menggunakan sisa air yang telah digunakan bersuci oleh orang wanita. Dan pernyataan seperti itu adalah yang paling sah, sekalipun tidak disukai oleh Ahmad dan Ishaq, manakala tidak terpaksa benar” (Nail Al-Autsar 1:53)

 

MASALAH 3:

Bolehkah orang lelaki dan perempuan mandi dan satu bejana agar timbul rasa  kemesraan ?

Menurut H.R. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’I dan At-Tirmidzi, dan menurut perawi terakhir ini, hadist ini hasan shahih. Yang Artinya:

“Dari Ibnu Abbas ra. la berkata: “Salah seorang isteri Nabi saw. Mandi dalam sebuah bejana. Maka datanglah Nabí saw. untuk berwudhu’ atau mandi dari bejana itu. Maka tegur isterinya itu kepada beliau: “Ya Rasul Allah, sesungguhnya saya ini junub”.

Maka jawab Nabi: “Sesungguhnya air ini tidak ikut memuat jinabat”.

 

Kata Asy-Syaukani dalam Nail Al-Authar: “Adapun mandi dan wudhu’ bersama antara lelaki-perempuan, itu tak perlu diperselisihkan. Karena Ummu Salamah telah mengatakan:

Artinya:

“Pernah aku mandi jinabat bersama Rosu!ullah saw. dan satu bejana.” –Muttafaq ‘Alaih—

 

Artinya:

“Dan dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Pernah aku bersama Rasulullah saw. mandi jinabat dari satu bejana di mana tangan kami saling bergantian.” –Muttafaq ‘Alaih-

 

Menurut lafazh A1-Bukharj:

Artinya:

“…. dari satu bejana, kami menciduk darinya bersama-sama.”

 

Sedang menurut Muslim:

Artinya:

“ …. dari satu bejana (yang digunakan) antara aku dengan beliau. Maka beliau mendahului aku, sampai aku berkata: “Biarkan untukku, biarkan untukku.”

 

Adapun menurut lafazh An-Nasa’i:

Artinya:

“….. dari satu bejana, beliau mendahului aku dan aku pun mendahului beliau, hingga beliau katakan: “Biarkan untukku”, dan aku pun berkata: “Biarkan untukku” (Nail Al-Authar 1:53)

 

Ketika menukil pendapat yang menyetujui bolehnya mandi bersama dan satu bejana antara lelaki-perempuan, kami temui juga riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Daud dan Ummu Shabiyah, yang patut diperhatikan.

Begitu pula di antara dalil yang menunjukkan hal yang sama, adalah hadits riwayat Abu Daud, dan Ummu Habibah Al-Juhanniyah ra. ia mengatakan:

Artinya:

“Tanganku dan tangan Rasulullah saw. saling bergantian ketika berwudhu’ dari satu bejana.”

 

Dan dari lbnu ‘Umar ra. dia katakan:

Artinya:

“Orang-orang lelaki dan perempuan di masa Rasulullah saw. berwudhu’….”

 

Yang kemudian ditambahi oleh Musaddid:

“…. dan satu bejana bersama-sama.”

 

Dan akhirnya berkatalah Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam “Fath Al-Bari”: “Zhahir hadits itu menyatakan bahwa mereka menggunakan air dalam keadaan yang sama.”

Sedang menurut riwayat Ibn An-Niin artinya, bahwa orang-orang lelaki dan perempuan semuanya berwudhu’ di satu tempat, tapi lelaki sendiri dan perempuan tersendiri pula.”

Tapi yang benar ialah seperti yang dikatakan Al-Hafizh sesudah itu: “Dan jawaban yang paling utama adalah, tak ada halangan untuk berkumpul lelaki-perempuan sebelum turunnya ayat mengenai “hijab”. Adapun setelah turunnya wahyu tersebut, maka berkumpul itu hanya diperbolehkan bagi suami-isteri dan sesama muhrim saja.”

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam