Home / Uncategorized / Membatalkan puasa karena menghormati tamu

Membatalkan puasa karena menghormati tamu

Masalah keempat puluh Sembilan

Bolehkah membatalkan puasa untuk menghormati tamu ?

 

Abu Juhaifah berkata, “Nabi s.a.w. telah mempersaudarakan Salman dan Abu Darda. Suatu ketika, Salman mengunjungi Abu Darda sedang bersedih, dia pun bertanya, ‘Apa yang terjadi pada dirimu?’ Ummu  Darda menjawab, ‘Saudaramu, Abu Darda, sudah tidak lagi membutuhkan kehidupan dunia.’ Salman pun mendatangi Abu Darda , lalu dia membauatkan makanan untuknya. Dia berkata kepadanya, ‘Makanlah.’ Abu Darda menjawab, ‘Sungguh aku sedang berpuasa.’ Salman pun berkata, ‘Aku tidak akan sampai kamu juga makan.’ Akhirnya, Abu Darda pun makan. Ketika malam tiba, Abu Darda bangun mengerjakan shalat. Salman berkata, ‘Tidurlah!’ Abu Darda pun tidur. Kemudian Abu Darda bangun lagi, maka Salman berkata, ‘Tidaklah!’ Abu Darda pun kembali. Ketika sampai pada akhir malam, Salman berkata, ‘Sekarang, bangunlah!’ Kemudian mereka berdua pun mengerjakan shalat malam. Setelah itu, Setelah itu, Salman berkata kepadanya, ‘Untuk Tuhanmu ada hak. Untuk dirimu ada hak. Dan unutk kelurgamu juga ada hak. Untuk dirimu ada hak. Dan untuk kelurganya juga ada hak. Maka berikanlah pada tiap sesuatu haknya masing-masaing!’ Setelah itu, Abu Darda mendatangi Nabi s.a.w., lalu dia menceritakan apa yang dilakukan Salman terhadapnya kepada nabi, Nabi s.a.w. pun bersabda, ‘Ucapan Salman benar.’ (HR. Bukhari)

Para ulama menjelaskan, “Hadis tersebut mengandung beberapa pelajaran berharga. Di antaranya, seorang muslim dianjurkan untuk mengangkat muslim lain sebagai saudara dengan niat karena Allah, lalu mengunjungi saudara-saudaranya itu, serta menginap di rumah mereka.

Hadis tersebut juga mengisyaratkan bolehnya orang yang berpuasa sunah (bukan puasa Ramadhan/puasa wajib) untuk berbuka atau membatalkan puasanya. Inilah pendapat yang diikuti oleh jumhur ulama. Mereka tidak mewajibkan orang tersebut mengganti puasanya, kecuali jika orang tersebut ingin melakukan hal itu.”

Abdul Razaq menuturkan: Ibnu Abbas pernah mengatakan bahwa membatalkan puasa sunnah seperti orang yang ingin mensedekah hartanya, namun tidak jadi atau hanya mensedekah sebagimana saja.

Umma Hani meriwayatkan bahwa dia pernah menemui Nabi s.a.w. saat itu, Ummu Hani sedang berpuasa. Tetapi, ketika Nabi mengajaknya minum, Ummu Hani pun mengambil minuman yang telah disediakan, lalu dia juga ikut minum. Setelah itu, dia menanyakan kepada Nabi tentang hal itu, maka Nabi pun bersabda, “Apakah kamu sedang mengganti puasa satu hari dari bulan Ramadhan?” Dia menjawab, “Tidak.” Lalu, Nabi bersabda, “Kalau begittu tidak apa-apa.” Pada riwayat lain disebutkan dengan kalimat, “Jika puasamu itu untuk menggnti puasa wajib, maka berpuasalah untuk  mengganti puasamu. Tetapi jika puasamu adalah puasa sunah, maka jika kamu mau, berpuasalah untuk menggantinya. Tetapi jika tidak mau, maka janganlah kamu menggantinya.”

Imam Malik membolehkan hal tersebut dan tidak harus mengganti puasanya jika hal itu dilakukan karena satu alasan kuat. Tetapi, jika dilakukan tanpa alasan kuat, dia harus mengganti puasanya. Sedangkan Imam Abu Hanifah mewajibkan ganti atas puasa tersebut secara mutlak.

Ibnu Abdik Barr telah menyebutkan kesepakatan para ulama mengenai tidak adanya kewajiban mengganti puasa bagi orang yang membatalkan puasa sunnahnya karena satu alasan kuat. Adapun dalil orang-orang yang mewajibkan ganti adalah haids yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Nasa’I dari Aisyah bahwa dia berkata, “Aku dan Hafshah pernah berpuasa. Ketika diperlihatkan kepada kami makanan, kami pun tertarik, lalu kami memakannya. Saat itu, Rasulullah datang. Hafshah lebih dahulu menemuinya dari pada diriku. Lalu, dia berkata, ‘Rasulullah.. (Hafshah pun menceritakan apa yang dilakukannya bersamaku). Lalu Rasulullah bersabda, ‘Ganti puasamu pada hari lain!’ “

Pendapat yang benar, orang yang mengerjakan puasa sunah dibolehkan untuk membatalkan puasanya tanpa ada kewajiban untuk menggantinya. Dalam hal ini, orang tersebut memiliki kebabasan untuk memilih. Karena puasa yang dilakukannya itu hanya ibadah sunah. Apalagi jika dia melihat ada kemaslahatan seandainya berbuka.

About admin

Check Also

Sahabat yang murtad lalu bertaubat

murtad lalu bertaubat Pertanyaan: sesungguhnya sahabat yang telah ditetapkan kesahabatannya kemudian keluar dari islam setelah …


Tanya Jawab Agama Islam