Home / dunia islam terkini / Menyambut bulan ramadhan

Menyambut bulan ramadhan

Apa yang harus dilakukan untuk menyambut kedatangan bulan Ramadhan?

 

Allah s.w.t. berfirman,

“Apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya terang yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaanya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar daripadanya?” (QS. Al-An’am:122)

Semoga Allah s.w.t. menghiudpkan kita semua sebagaimana Dia menghidupkan kakek-nenek kita pada suatau masa dimana mereka menyebrangi samudera, berlayar dilautan, dan naik ketempat-tempat tinggi mau meyakini bahwa tiada tuhan kecuali Allah. Maka bertanyalah kepada dunia, lautan, dan samudera tentang Allah. Maka bertanyalah kepada dunia, lautan, dan samudera tentang Allah! Pada masa-masa sebelumnya, dunia ini dipenuhi dengan penyembahan terhadap berhala, kemusyrikan dan orang-orang yang melampaui batas. Tetapi, ketika Nabi Muhammad s.a.w. datang, kepala manusia ditengadahkan menghadap kearah Tuhannya.

Wahai para pemuda !

Pintu ar-Rayyan sedang menanti kalian. Buah-buahan surga telah siap dihidangkan di meja makan Allah Yang Maha Penyayang untuk kalian.

Saya akan memberikan kabar gembira kepada kalian, yaitu:

  1. Bau mulut orang yang berpuasa lebih baik dari pada wangi minyak kasturi.
  2. Setiap hari, surge-surga dihiasai dengan hiasan tertentu, dimana surga-surga akan dipersiapkan bagi orang yang menjadi penolong agama Allah.
  3. Ikan-ikan di lautan akan meminta ampunan kepada Allah untuk orang yang berpuasa hingga dia berbuka.
  4. Allah akan membelenggu setan-setan sehingga tidak bida masauk serta mengotori pikiran-pikiran dan hati seperti yang telah mereka lakukan sebelumnya.

Kami sedang menunggu dan menyambut kedatangan bulan Ramdhan atau bulan yang penuh berkah dengan harapan agar tuhan mengampuni dosa dan kesalahan kami. Oleh karena itu, pada hari ini kami datang untuk mengatakan, “Tuhan, kami berdiri dihadapan-Mu, didepan pintu-Mu di dekat meja makan-Mu, guna menunggu limapahan rahmat-Mu bukan rahmat zat lain selain Engkau, serta mengharapkan ampunan-Mu bukan ampunan zat lain selain Engkau. Engkaulah Zat Yang Maha Pengasih dan Penyayang.”

Puasa jangan dipahami sebatas menahan lapar dan haus saja. Sebab, sebelum seseorang berpuasa dengan perutnya, terlebih dahulu harus berpuasa dengan matanya. Puasa yang harus dilakukan oleh mata adalah seperti puasa yang dilakukan oleh perut pada bulan Ramadhan. Mata harus berpuasa dengan menghindari perbutan haram, tidak memandang hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah, serta tidak melihat hal-hal yang termasuk maksiat. Jika mata Anda tidak berpuasa sebagimana perut, Anda dianggap tidak berpuasa!

Puasa juga harus dilakukan oleh lidah. Lidah harus berpuasa dari menggunjing, mengadu domba, da mengutuk orang lain. Ketahuilah bahwa kutukan merupakan perkataan yang terjelek dan dosa terbesar yang dilakukan oleh lidah manusia.

Hendaklah lidahmu tidak menyebut-nyebut kejelekan orang lain

Karena setiap orang memiliki kejelekan, juga lidah.

Ketika matamu melihat kejelekan orang lain,

Katakanlah, “Wahai mata, orang lain juga memiliki mata.”

Telinga juga harus berpuasa dari nyanyian yang merusak, yaitu nyanyian yang menanamkan naluri buruk dalam hati dan menumbuhkan keinginan melakukan perbuatan keji dalam jiwa.

Sebagimana diketahui, Allah s.w.t. akan memberikan berbagai kenikmatan kepada penduduk surga, di antaranya Dia akan memperdengarkan nyanyian surga.

Kaki juga harus berpuasa, yaitu dengan tidak pergi ke tempat yang dimurkai Allah s.w.t., berkumpul di café-café, tempat hiburan, dan tempat-tempat rekreasi yang hanya akan membuang waktu dengan percuma. Kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah tentang waktu yang telah kita lalui.

“Sungguh, kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagiman kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan dibelakangmu apa yang telah Kami karuniakan kepadamu; dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu tuhan di antaramu. Sungguh, telah terputuslah pertalian antara kamu dan telah lenyap sesuatu yang dahulu kamu anggap sebagai sekutu Allah.” (QS. Al-An’am:94)

Dengan puas kita dituntut menjaga tangan dari tindak kekerasan, pengrusakan, penghianatan, memakan harta haram, mencuri, dan suap-menyuap.

Inilah yang dimaksud dengan puasa dalam Islam.

Setelah melakukan puasa dengan anggota-anggota tubuh di atas, barulah kita puasa dengan perut. Yakni dengan cara meninggalkan makanan dan minuman agar tidak meraskan kehausan dan kelaparan ketika berada di sisi Allah nanti. Orang yang tidak bersabar dalam menjalankan puasa, tidak mungkin dapat bersabar dalam mengemban kewajiban lain.

Tidakkah kalian tahu, ketika memimpin pasukannya dalam peperangan melawan orang-orang murtad, Usamah ibn Zais masih berusia 17 tahun?

Umurnya yang masih muda itu telah dia persembahkan kepada Allah guna mendekatkan diri kepada-Nya.

Hal ini sangat berbeda dengan kondisi kita. Meskipun telah berusia 43 tahun, kita masih saja tetap bodoh, baik dalam pemikiran, memilih mana yang baik dan buruk, maupun dalam menggunakan waktunya.

Perhatikanlah pemuda yang bernama Haritsah ibn Saraqah! Ketika terjadi perang Uhud, ia ikut serta dalam perang tersebut. Setelah mandi di waktu pagi, pemuda itu memakai kain kafan, lalu memakai wewangian dan obat yang biasa diolehkan pada mayat. Setelah itu, dia masuk ke medan perang dan berkata kepada keluarganya, “Aku titipkan kalian kepada Allah. Demi Allah, aku tidak akan kembali lagi.”

Setelah mandi, memakai kain kafan dan wewangian, dia berperang hingga akhirnya terbunuh. Lalu ibunya mendatangi Rasulullah s.a.w. Dia berkata, “Rasulullah, apakah putraku berada di surga setelah dia terbunuh, atakah berada di tempat lain? Jika memang benar dia berada di tempat lain, apa yang harus aku lakukan? Rasulullah s.a.w. bersabda, “Apakah karena memikirkan hal itu kamu menjadi gila? Demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya, sungguh di sana ada surga yang banyak, dan puteramu berada di surga Firdaus yang tertinggi. (HR.Bukhari)

Rasulullah s.a.w. menuturkan: Allah mengumpulkan orang yang mati sebagai syahid dalam perang Uhud, kemudian Dia berfirman kepada mereka, “Mintalah sesuatu kepada-Ku.” Saat itu Allah s.w.t. berbicara langsung kepada mereka tanpa melalui perantara. Maka mereka pun menjawab, “Kami berharap agar Engkau mengembalikan kami ke dunia sehingga kami pun dapat terbunuh kembali di jalan-Mu” Allah s.w.t. berfirman lagi, “Aku telah mewajibkan kepada Zat-ku sendiri bahwa orang-orang yang mati tidak dapat kembali lagi ke dunia. Maka, mintalah sesuatu yang lain kepada-Ku.” Mereka pun menjawab, “Kami berharap agar Engkau meridhai kami sebagaimana kami meridhai-Mu sebagai Tuhan kami.” Allah s.w.t. berfirman, “Sungguh, Aku telah memberikan keridhaan-Ku untuk kalian, di mana Aku tidak akan pernah murka kepda kalian untuk selama-lamanya.”

Kemudian Allah meletakkan ruh mereka di sarang burung yang berada di surga, seingga mereka dapat makan dari pepohonan dan minum dari air yang ada di dalamnya, dan pergi menuju lampu-lampu yang tergantung di atas ‘Arsy. Mereka akan tetap berada disana hingga Allah s.w.t. membangkitkan semua manusia pada Hari Kiamat. Mereka adalah kakek-kakek kalian yang rela berkorban dan menebus dirinya, yang telah mengibarkan panji Islam di belahan timur dan barat dunia. Dari kisah ini, dapat diambil pelajaran penting bahwa kita harus melakukan semua amal perbuatan dengan ikhlas, karena hal itulah yang akan menyebabkan kida dapat menerima karunia dari Allah pada hari Kiamat.

 

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam