Home / dunia islam terkini / HUKUM PUASA BAGI MUSAFIR MENURUT ISLAM dan BOLEH KAH TIDAK BERPUASA

HUKUM PUASA BAGI MUSAFIR MENURUT ISLAM dan BOLEH KAH TIDAK BERPUASA

Masalah Keenam

Bolehkah orang yang sedang berpergian membatalkan puasanya?

sebelum membahas tentang puasa orang musafir ada kalanya kita tahu terlebih dahulu pengertian musafir itu. dalam bahasa arab musafir berasal dari fiil safara-yusafiru yang artinya bepergian, dalam hal ini musafir adalah orang yang mengadakan perjalanan pada suatu tempat dengan jarak yang cukup jauh.  

Orang yang berpergian (MUSAFIR) , diperbolehkannya meringkas shalat (qashar) ketika musafir hendak melakukan shalat, dan boleh membatalkan puasanya (boleh tidak berpuasa). Allah s.w.t. berfirman,

“Jika di antara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan lalu berbuka, ia wajib berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Ada beberapa masalah yang terkait dengan ayat tersebut, yaitu:

Pertama, ulama salaf berpendapat bahwa orang yang tidak berpergian dari awal bulan Ramadhan, lalu pertengahan Ramadhan ia mengadakan perjalanan, maka dia tidak bolehkan membatalkan puasanya hanya dengan alasan bahwa dia sedang berpergian.

Allah s.w.t. berfirman, “Karena itu, jiak diantara kalian hadir (dinegeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah kalian berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Menurut mereka, keringanan tersebut hanya diberikan kepada orang yang menjumpai awal bulan Ramadhan ketika sedang dalam perjalanan. Pendapat ini dinukil oleh Ibn Hazam dalam kitabnya al-Muhalla.

Pendapat yan diriwayatkan dari sebagian sahabat dan tabiin itu dapat dibantah, karena dalam hadis yang diriwayatkan Ibn Abbas, Rasulullah s.a.w. pernah keluar pada bulan Ramadhan pada saat pembebasan Mekkah. Ketika itu, setelah nabi berjalan hingga sampai di daerah al-Kadid, beliau pun berbuka, lalu beliau memerintahkan kaum muslimin untuk berbuka. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kedua, sebagian sahabat dan tabiin lainya berpendapat bahwa seseorang yang sedang mengadakan perjalan wajib berbuka.

“…wajib berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Namun, pendapat yang benar adalah pendapat mayoritas ulama, yaitu bahwa perintah mengganti puasa pada hari lain merupakan suatu pilihan bukan suatu keharusan. Karena para ulama berkata, “Di antara kami ada orang yang tetap berpuasa dan ada yang berbuka. Saat itu, orang yang berpuasa tidak mempersoalkan orang yang berbuka, dan begitu pula sebaliknya.” Seandainya perintah berbuka itu merupakan suatu kewajiban, niscya Rasulullah s.a.w. akan mengingkari perbuatan orang-orang yang tetap berpuasa itu.

Bahkan, dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. tetap berpuasa dalam perjalanan. Abu Darda meriwayatkan, “Kami pernah berpergian bersama Rasulullah s.a.w. pada bulan Ramadhan. Saat itu, matahari terasa sangat panas hingga salah seorang diantara kami meletakkan tangan diatas kepalanya karena terik matahari terasa sangat menyengat. Ketika itu, tidak ada seorang pun diantara kami yang berpuasa kecuali Rasulullah s.a.w. dan Abdullah ibn Rawwahah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ketiga, Imam Syafi’I berpendapat bahwa berpuasa ketika sedang dalam perjalanan lebih baik dari pada berbuka. Pendapat ini didasarkan pada perbuatan Nabi yang disebutkan dalam hadis di atas.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa berbuka lebih baik dari pada tetap berpuasa, karena itu merupakan upaya memanfaatkan keringanan yang telah diberikan Allah.

Ada pula yang berpendapat bahwa kedua hal tersebut adalah sama. Pendapat terakhir ini didasarkan pada sebuah hadis riwayat Aisyah bahwa Hamzah ibn Amr al-Aslami pernah bertanya kepada Rasulullah, “Rasulullah! Saya adalah orang orang yang sering berpuasa. Apakah saya boleh berpuasa ketika sedang berada dalam perjalanan?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Berpuasalah jika kamu menghendakinya dan berbukalah jika kamu mau!” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ada juga sebagian ulama yang berpendapat bahwa jika puasa dapat memberatkan orang yang sedang berpergian, maka berbuka lebih baik dari pada tetap berpuasa. Ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Jabir bahwa Rasulullah s.a.w. bertanya, “Siapa orang ini?” para sahabat menjawab, “Dia adalah orang yang sedang berpuasa.” Rasulullah pun bersabda, “Berpuasalah didalam perjalanan bukan termasuk kebajikan.”

Keempat, Ada dua pendapat mengenai pergantian puasa, apakah harus dilakukan berturut-turut atau boleh dipisah-pisah.

  • Pendapat pertama mengatakan bahwa mengganti puasa harus dilakukan secara berturut-turut. Sebab, mengganti suatu amal harus sama dengan melakukan amal aslinya.
  • Sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa boleh dilakukan secara berturut-turut, boleh juga tidak.

Pendapat kedua ini merupakan pendapat mayoritas para ulama Salaf.

Allah s.w.t. berfirman, “…wajib berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bukan kesukaraan.” (QS. Al-Baqarah: 185)

 

Incoming search terms:

  • pengertian musafir

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam