Home / dunia islam terkini / PANDANGAN 4 MADZHAB TENTANG SHALAT WANITA DI MESJID

PANDANGAN 4 MADZHAB TENTANG SHALAT WANITA DI MESJID

HUKUM WANITA PERGI UNTUK MENUNAIKAN SHOLAT BERJAMAAH DI MASJID .

Dalam Fiqih ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah dapat kita lihat pandangan para Ulama 4 madhab  dalam masing-masing madzhab:

Para Ulama dalam madzhab Maliki berpendapat, bahwa untuk wanita shalat di rumah adalah lebih utama daripada shalat di mesjid. Namun demikian mereka dimandub shalat berjamaah di sana asal imamnya tetap lelaki.

Sedang para Ulama Hambali berpendapat, bahwa bagi wanita shalat berjamaah itu sunnah dilaksanakan oleh kaum wanita sendiri tidak bersama jamaah lelaki, baik yang menjadi imam itu lelaki atau perempuan. Sedang bila jamaah itu dilaksanakan bersama jamaah lelaki, maka makruh hukumnya bagi wanita cantik, dan boleh saja bagi wanita yang tidak cantik.

Kemudian menurut madzhab Syafi’i, bagi wanita, berjamaah di rumah adalah lebih utama daripada di mesjid. Sedang shalat jamaah itu sendiri bagi mereka hukumnya mandub, maksudnya sunnah mu’akkadah.

Lain lagi pendapat para Ulama Hanafi yang mengatakan, shalat jamaah itu tidak disyari’atkan atas kaum wanita. Bahkan jamaah wanita yang diimami oleh seorang wanita hukumnya makruh tahrim, sekalipun sah shalat mereka dan keimamannya.

Adapun kalau yang menjadi imam itu laki-laki, maka tak apa mereka berjamaah di mesjid, sekalipun kepergian mereka ke mesjid itu sebenarnya makruh, yakni manakala dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah.Sekarang bagaimana kalau yang menjadi imam itu laki-laki tapi jamaah wanita itu diselenggarakan di rumah? Itu memang makruh, bila sang imam itu bukan suami sendiri atau muhrim, atau di rumah itu tak ada laki-laki selain imam itu sendiri.

Tapi kalau ada, maka hal itu tidaklah makruh; demikian menurut Ulama Hanafi.

Dari keterangan tersebut di atas jelaslah bagi kita, bahwa pergi ke masjid bagi wanita tidaklah berdosa; dengan catatan bahwa shalat mereka di rumah adalah lebih utama daripada di mesjid. Namun demikian, mesjid adalah rumah Allah. Di sana lebih terasa meresapnya iman dalam hati.

Oleh karena itu kaum lelaki tidak berkewajiban melarang isteri-isteri mereka pergi ke sana kapan saja, meski tiap minggu satu-dua kali. Hanya kalau dengan pergi ke mesjid itu dikhawatirkan bakal menimbulkan pergunjingan atau fitnah yang lain, maka wajiblah suaminya melarang pergi ke sana.

Dan dalilnya ialah perkataan Siti ‘Aisyah ra:Artinya: “Andaikan Rasululíah saw. tahu kelakuan kaum wanita yang kita saksikan sekarang, pastilah beliau akan melarang mereka pergi ke mesjid, seperti Bani Isra‘il melarang isteri-isteri mereka”. (Muttafaq ‘Alaih, dari Yahya bin Sa’id)

Demikian pula diriwayatkan, bahwa Ummu Hamid As-Sa’idiyah datang kepada Rasulullah saw. lalu berkata: “Ya Rasul Allah, sesungguhnya aku ingin bersembahyang bersamamu.”Maka Jawab Rasul:Artinya:“Sesungguhnya aku pun mengerti, tapi shalatmu di rumah adalah lebih baik bagimu daripada shalat di kamarmu, dan shalatmu di kamarmu itu lebih baik bagimu daripada shalat di kampungmu, dan shalatmu di kampungmu itu lebih baik bagimu daripada shalat di mesjid kaummu, dan shalatmu di mesjid kaummu itu lebih baik bagimu daripada shalat di mesjid umum”. (H.R. Ahmad, Ath-Thabrani dari Ummu Hamid; dan menurut Al-Hafidz, sanadnya hasan)

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam