Home / dunia islam terkini / PANDANGAN FIQIH ULAMA’ MADHAB TENTANG MENSTRUASI ATAU HAID DALAM ISLAM

PANDANGAN FIQIH ULAMA’ MADHAB TENTANG MENSTRUASI ATAU HAID DALAM ISLAM

Perbedaan madhab sangatlah sering terjadi dalam agama islam, dalam menentukan hukum islam banyak ulama’-ulama’ salaf yang berbeda pendapat, bahkan yang akan kita bahas ini akan menjadi perbincangan menurut pandangan para ulama’ madhab, mereka adalah imam malik, imam ahmad. imam syafii. imam hambali, berikut adalah pandangan mereka tentang sikulasi darah haid atau menstruasi :

haid2

MADZHAB MALIKI TENTANG SIRKULASI HAID

Para ulama dalam madzhab Mailki mengatakan, bila seorang gadis remaja antara umur 9 – 13 tahun telah mengeluarkan darah, maka hendaknya ja menanyakan hal itu kepada kakak-kakaknya yang telah dewasa dan lebih berpengalaman, apakah itu haid atau bukan. Kalau mereka memastikan itu haid atau ragu-ragu, maka anggaplah itu darah haid. Tapi kalau mereka memastikan itu bukan haid, maka pendapat mereka patut diikuti, jadi itu cuma darah penyakit. Dan boleh juga menanyakannya kepada seorang dokter yang berpengalaman dan terpercaya.

Adapun darah yang keluar dan wanita yang umurnya lebih dan 13 sampai dengan 50 tahun, itu sudah pasti darah haid.Kemudian darah yang keluar dan mereka yang berumur lebih dan 50 sampai 70 tahun, patut ditanyakan kepada kaum wanita yang lain, dan pendapat mereka harus diikuti. Sedang yang ke luar dan wanita yang melebihi umur 70 tahun, dapat dipastikan itu bukan haid lagi, tapi darah istihadhah (yang akan kita bicarakan nanti). Dan begitu pula darah yang keluar dari gadis kecil yang belum mencapai umur 9 tahun.

PANDANGAN MADZHAB HANAFI

Darah yang ke luar dan anak perempuan umur 9 tahun, adalah darah haid, demikian pendapat yang patut dipilih dan para ulama madzhab Hanafi, Jadi ia wajib meninggalkan puasa dan shalat. Demikian seterusnya tiap bulan sampai tua di mana ía takkan berharap dapat haid lagi, yaitu jika telah mencapai umur 55 tahun menurut pendapat yang terpilih dalam madzhab ini, Artinya bagi wanita yang umurnya lebih dari 55 tahun tapi masih juga mengeluarkan darah, maka darah itu bukanlah darah haid, kecuali jika ternyata darah itu warnanya kuat, yakni hitam atau merah tua, barulah dapat dianggap darah haid.

PANDANGAN MADZHAB HAMBALI

Batas umur iyas, di mana wanita boleh menganggap diriwayatkan kedatangan haid lagi, adalah umur 50 tahun. Jadi kalau sesudah itu ia masih juga melihat darah ke luar dari farjinya, itu tidak dianggap darah haid, sekalipun nampaknya darah yang kuat warnanya.

PANDANGAN MADZHAB SYAFI’I

Tak ada batas akhir bagi umur haid wanita. Jadi haid itu kapan saja bisa datang selagi wanita itu masih hidup, sekalipun pada umumnya ia akan terhenti pada umur 62 tahun, yaitu yang umum disebut masa iyas (masa putus dan haid). (Fiqih ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, cet ke-7 Wazarat Al-Auqaf, h. 143-144).

 

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam