Home / dunia islam terkini / PENGERTIAN KHITAN atau SUNATAN dan HUKUMNYA

PENGERTIAN KHITAN atau SUNATAN dan HUKUMNYA

Pengertian khitan menurutr istilah ialah memotong kulit paling ujung dariu kemaluan laki-laki agar tidak terdapat banyak kotoran dan mengurangi nikmatnya jima’ antar suami istri.

Mengkhitankan wanita ialah dengan memotong sebagian kulit (lamora) atau kelentit (praeputium clitoridis) yang terdapat pada bagian atas farji, yakni sebelah atas liang senggama; bentuknya seperti ayam atau biji kurma; dokter atau juru khitan pasti tahu itu.

 

HUKUM KHITAN ATAU SUNATAN

Banyak Ulama dan Fuqaha seperti Asy-Syafi’i, yang mewajibkan khitan atas lelaki maupun perempuan. Hanya menurut Malik, bagi wanita, khitan hanyalah mandub saja. Pendapatnya ini berdasarkan hadits riwayat Syaddad bin Aus, bahwa Nabi Saw. bersabda:

Artinya:

“Khitan adalah sunnah bagi kaum lelaki dan merupakan kebaikan bagi kaum wanita”

Kata pengarang Ad-Dim Al-Khalish: “Yang benar memang tak ada dalil sah yang menunjukkan bahwa khitan itu wajib. Dan yang meyakinkan hanyalah bahwa khitan itu sunnah, sebagaimana yang tercantum dalam hadits mengenai “lima perkara fitrah” (tersebut diatas)”. Sedang yang wajib kita lakukan ialah melaksanakan perbuatan berdasarkan keyakinan, kecuali ada dalil yang mengatakan lain”.

Selanjutnýa katanya pula: “Mengenai waktu khitan pun terjadi perbedaan pendapat. Ibnu Habib meriwayatkan dan Malik, bahwa khitan itu dilaksanakan antara umur 7 – 10 tahun, dan makruh dilakukan pada hari kelahiran. Kemudian apabila seseorang telah dewasa tapi belum khitan juga, kalau mungkin dia berkhitan sendiri. Dan kalau tidak, maka kewajiban khitan itupun gugur. dan gugurnya kewajiban khitan itu lebih-lebih lagi bagi wanita yang telah dewasa.”

Lain halnya para Ulama Hanbali yang mengatakan: “Khitan itu mustahab setelah anak mencapai umur 7 tahun sampai tamyiz. Adapun sebelum umur 7 tahun, khitan itu makruh hukumnya. Dan kalau sudah dewasa hukumnya wajib kalau tidak khawatir bahaya atas dirinya.”

Sedang Abu Hanifah sendiri mengatakan: “Saya tak tahu kapan waktunya khitan itu.” Oleh sebab itulah maka dalam madzhab Hanafi, mengenai waktu khitan tidak ada kesatuan pendapat. Ada yang mengatakan nanti kalau umur anak sudah 7 tahun. Ada pula yang mengatakan 9, 10, 12 tahun atau bahkan nanti kalau sudah dewasa.

Adapun yang benar menurut Asy-Syafi’i, bahwa khitan itu boleh saja dilaksanakan ketika anak masih kecil. Bahkan menurut satu riwayat lain dari beliau, bahwa seorang wali berkewajiban mengkhitankan anak perempuan sebelum dewasa.

Dan di atas segala-galanya yang benar memang mustahab agar anak itu dikhitankan pada hari ke-7 sejak ia lahir. Karena menurut hadits riwayat Jabir ra.:

Artinya:

“Bahwa Nabi saw. mengkhitankan Hasan dan Husain pada umur 7 hari”. (H.R. Abu Asy-Syaikh dan Al-Baihaqi)

 

Maka dari keterangan di atas jelaslah bagi kita, bahwa setidaknya khitan bagi wanita itu merupakan kebaikan (makramah), di samping demi terwujudnya kebersihan dan kesucian, karena memang banyak kegunaannya. Maka wajiblah bagi para bapak-ibu untuk mengkhitankan anak-anak perempuan mereka sebagaimana anak-anak lelaki. Jangan pedulikan keraguan orang mengenai sunnah ini, bahwa ia betul-betul dianjurkan dalam hadits. Sedang bagi saya cukup beralasan untuk mengatakan, “Wanita muslimat modern memang dituntut untuk khitan”.

Namun demikian perlu juga diingat, bahwa untuk mengkhitankan anak perempuan tak perlu diadakan walimah, lain halnya untuk anak lelaki. Dan bagi siapa pun yang mendapat undangan walimah khitan anak perempuan, wajib tidak datang. Bahkan dalam kitab “Al Mudkhil”, Ibn Al-Haj mengatakan: “Sunnah yang sudah berlaku ialah, bahwa khitannya anak lelaki diumumkan, sedang khitannya anak perempuan dirahasiakan”.

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam