Home / dunia islam terkini / Perbedaan Ru’yah hilal ramadhan

Perbedaan Ru’yah hilal ramadhan

Masalah Ketiga Puluh Empat

Bagaimana jika terjadi perbedaan hasil ru’yah hilal?

 

Mayoritas ulama berpendapat bahwa adanya perbedaan hasil ru’yah hilal (melihat hilal tanda masuknya bulan Ramadhan) tidak menjadi masalah. Oleh karena itu, ketika penduduk suatu negeri mengetahui masuknya bulan Ramadhan, maka seluruh negeri umat islam wajib mengerjakan puasa.

Rasulullah s.a.w. bersabda, “Puasalah kalian jika kalian telah melihat hilal bulan Ramadhan dan berbukalah kalian jika kalian telah melihat hilal Bulan Syawal!” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Perintah ini bersifat umum bagi seluruh umat Islam. Oleh karena itu, jika ada salah seorang dari mereka melihat hilal, di mana pun ia melihatnya, maka hasil kesaksiannya itu menjadi kesaksian bagi seluruh umat Islam di mana pun mereka berada.

Namun menurut Ikhrimah, Qasim ibn Muhammad, Salim, Ishaq, pendapat yang benar dalam mazhab Hanafiyyah, dan pendapat yang kuat di kalangan mazhab Syafi’iyah, ru’yah penduduk suatu negeri hanya untuk penduduk negeri lain.

Pendapat ini didasarkan pada riwayat Abu Kuraib. Ia menuturkan:

Suatu ketika aku datang ke negeri Syam, dan tampak olehku di sana hilal Ramadhan pada jum’at malam. Kemudian aku datang ke Madinah di akhir bulan Ramadhan. Ibnu Abbas pun menyapaku dan menyinggung masalah hilal. Ia bertanya, “Kapam kalian di Syam melihat hilal?” Aku jawab, “Kami melihatnya pada jum’at malam.” Ia bertanya lagi, “Benar engkau melihatnya?” Aku jawab, “Ya. Orang-orang pun melihatnya, dan mereka puasa, juga Mu’awiyah.” Ia berkata,”Tapi kami melihatnya pada sabtu malam. Karena ia kami tetap berpuasa hingga melihat jilal lagi atau menyempurnakan Ramadhan ini sampai tiga puluh hari.” Aku berkata, ‘Tidakkah cukup hasil ru’yah Mu’awiyah sebagai patokan puasa kita semua?” Ia menjawab, “Tidak. Beginilah yang diperintahkan Rasulullah.” (HR. Muslim)

Sebagai bentuk pengalaman dari hadis ini, para ulama berpendapat bahwa penduduk setiap negeri harus berpedoman pada hasil ru’yahnya masing-masing.

 

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam