Home / dunia islam terkini / Persoalan seputar puasa

Persoalan seputar puasa

Masalah keempat puluh empat

Beberapa persoalan yang perlu diketahui orang yang berpuasa

 

  1. Orang yang makan setelah adzan shubuh karena adanya keraguan mengenai terbitnya fajar.

Jika seseorang merasa ragu apakah fajar telah terbit atau belum, dia boleh makan dan minum hingga dia benar-benar mengetahui bahwa sebenarnya dia telah makan ketika fajar telah terbit, maka terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama mengenai kewajiban mengganti puasa yang harus dilakukan orang tersebut. Pendapat yang terkuat adalah pendapat yang mengatakan bahw tidak wajib baginya mengganti puasanya. Inilah pendapat yang di riwayatkan dari Umar dan diikuti oleh sekelompok ulama baik dari kalangan salaf maupun khalaf. Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa orang tersebut harus mengganti puasanya merupakan pendapat imam empat madzhab (Hanfi, Maliki, Hanbali dan Syafi’I). Wallahu A’lam.

  1. Orang yang pingsan ketika berpuasa.

Jika puasa dilakukan seseorang dapat menyebabkan pingsan, maka dia boleh tidak puasa, tetapi dia harus mengganti puasanya. Jika hal itu selalu terjadi, maka dia boleh mengganti puasanya dengan memberi makan satu orang miskin untuk satu hari yang ditinggalkan.

  1. Orang yang sengaja meninggalkan puasa, kemudian dia menggauli/berhubungan badan dengan  istrinya, dia wajib mengganti puasanya.

Menurut Imam Maliki, Ahmad dan Abu Hanifah, orang tersebut juga wajib membayar denda. Seangkan, menurut Imam Syafi’I orang tersebut tidak wajib memabayar denda. Pendapat yang benar adalah bahwa orang tersebut diwajibkan untuk mengganti puasnya dan membayar denda.

  1. Jika seseorang mencium atau mendekap isterinya hingga keluar air madzinya, apakah perbuatan itu telah membatalkan puasanya atau tidak ? menurut mayoritas ulama puasanya batal.
  2. Hukum orang yang tidak berpuasa dibulan Ramadhan dengan sengaja.

Jika seorang muslim berpuasa di bulan Ramadhan dengan menganggap bahwa perbuatannya itu adalah halal, padahal sebenarnya dia tahu bahwa perbuatannya itu haram, maka orang seperti itu harus dibunuh. Namun, jika dia tidak beranggapan bahwa ibadah puasa merupakan ibadah wajib, maka dia dianggap sebagai orang fasiq. Adapun mengenai hukuman yang diberikan kepadanya, ditentukan oleh kebijakan sang imam (pemerintah). Jika sang imam belem mengetahui hal itu, dia harus diberi tahu, sehingga hukuman bagi orang tersebut pun akan ditentukan oleh ijtihad sang imam.

  1. Hukum orang yang tidak mampu mengerjakan puasa karena sakit, lalu dia meninggal dunia padahal masih memiliki tangguungan puasa.

Dalam masalah ini, jika sakit yang diderita orang tersebut berkelanjutan, sehingga ia tidak memiliki keampatan untuk menggantinya, maka tidak ada kewajiban bagi ahli warisnya kecuali kewajiban untuk memberi makan kepada orang miskin.

 

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam