Home / dunia islam terkini / HAL-HAL MENGENAI KEUTAMAAN AMALAN PUASA

HAL-HAL MENGENAI KEUTAMAAN AMALAN PUASA

Masalah kedua

Apa keutaman puasa secara umum ?

 

Rasulullah s.a.w bersabda,

“Puasa adalah perisai. Jika kalian berpuasa, jangan berkata kotor dan bersikap tidak ramah. Jika ada yang mengajak bertengkar atau mencaci kalian, katakanlah, ‘Saya sedang berpuasa.’ Demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya! Bau mulut orang yang berpuasa lebih baik dari pada wangi minyak kasturi. Karena dia telah meninggalkan makan,minum dan nafsu syahwatnya demi mengharap ridha Allah. Puasa itu untuk-Ku. Dan Aku yang akan memberi balasannya. Ketahuilah, satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebiakan.” (HR.AL-Bukhari dan Muslim)

Para ulama berpendapat bahwa puasa memiliki manfaat dan kelebihan dibanding ibadah-ibadah lainynya, di antaranya:

Pertama, tidak seperti ibadah-ibadah lainya, di dalam ibadah puasa tidak ditemukan unsur riya. Rasulullah s.a.w bersabda,”Tidak ada riya dalam ibadah puasa.”

Hadis di atas juga diriwayatkan oleh Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman. Namun, jalur periwayatan hadist tersebut lemah, karena sebagian periwayatnya tidak diketahui. Redaksi hadis yang dirawayatkan Baihaqi itu sebagai berikut, “Di dalam ibadah puasa tidak ada riya. Allah s.w.t. berfirman, ‘Puasa itu untuk-Ku. Aku akan memberi balasan kepada orang yang melakukanya, yaitu orang yang meninggalkan makanan dan minumannya karena-Ku.”

Imam Qurthubi menjelaskan, “Semua perbuatan bisa dimasuki riya. Sedangkan ibadah puasa hanya dapat diketahui oleh Allah s.w.t, maka Allah menisbahkan ibadah tersebut kepada diri-Nya. Allah s.w.t. berfirman dalam hadis qudsi, ‘Yaitu orang yang meninggalkan hawa nafsu karena-Ku.’

Ibnu al-Jauzi menambahkan, “Semua ibadah pasti terlihat ketika sedang dilakukan. Ketahuilah, sangat sedikit ibadah yang selamat dari sikap riya kecuali ibadah puasa.”

Kedua, Allah s.w.t berfirman, “Aku akan memberikan balasan kepada orang yang melakukan puasa.” Maksudnya, hanya Allah yang mengetahui kadar pahala bagi orang yang berpuasa. Sementara kadar pahala ibadah lainya, terkadang dapat diketahui.

Qurthubi menjelaskan, maksud kadar pahala ibadah yang dapat diketahui adalah, setiap pahala dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat hingga 700kali lipat, atau hingga kelipatan tertentu sesuai kehendak Allah, kecuali ibadah puasa. Allah s.w.t. memberikan pahala ibadah puasa tanpa ada penentuan kadarnya.

Hal tersebut diperkuat oleh hadis riwayat Abu Hurairah r.a.,

“Setiap amal anak cucu Adam itu pasti dilipatgandakan. Satu kebaikan dbalas dengan sepuluh kali kebaikan hingga 700 kali lipat bahkan hingga kelipatan tertentu sesuai kehendak Allah. Allah s..w.t. berfirman, ‘kecuali puasa, karena puasa itu milik-Ku dan Aku yang akan memberikan balasannya.” (HR.Muslim)

Dan orang yang berpuasa pasti diberi imbalan. Karena puasa merupakan bagian dari kesabaran.

“Sungguh, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

            Ketiga, Allah s.w.t berfirman, “Puasa adalah untuk-Ku.” Maksudnya, ibadah puasa merupakan ibadah paling dicintai Allah. Firman Allah s.w.t ini cukup menjadi dalil yang menunjukkan keutamaan ibadah puasa diatas ibadah lainnya.

Rasulullah s.a.w bersabda, “Wajib bagimu berpuasa, sungguh, ibadah puasa itu tidak ada bandingannya.” (HR. Ibnu Hibban)

Keempat, Meninggalkan makanan dan keinginan-keinginan lainya merupakan salah satu sifat Tuhan Yang Mahaagung. Dia adalah Zat yang memberi makan namun tidak makan. Ketika orang berpuasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan mengikuti sifat-sifat-Nya, Allah pun menyandingkan puasa orang tersebut dengan Zat-Nya.

Sebagian ulama berpendapat, “Maksudnya, semua ibadah yang dilakukan manusia sesuai dengan tabiat mereka, kecuali ibadah puasa. Nilai-nilai yang terdapat di dalam ibadah puasa sesuai dengan salah satu sifat Allah.”

Kelima, al-Khatthabi berpendapat, “Puasa merupakan ibadah yang dilakukan hanya untuk Allah s.w.t., tidak ada sedikit pun bagian untuk hamba-Nya.”

Ibn al-Jauzi menjelaskan, “Maksudnya, orang yang melakukan ibadah puasa tidak akan mendapat sedikitpun bagian dari ibadah  yang dilakukanya itu, berbeda dengan ibadah lainnya. Dalam ibadah lain, selain puasa, ada bagian tertentu yang akan diterima oleh orang yang akan menggerjakanya. Misalnya, dia akan mendapatkan pujian atau penghargaan dari orang lain. Memang, dalam ibadah puasa, terkadang bias juga muncul sikap riya, sedangh riya’ adalah melakukan sesuatu agar dilihat orang lain, namun kadarnya lebih kecil disbanding sikap riya yang terjadi dalam ibadah lainnya.”

Keenam, ibadah puasa tidak pernah dijadikan sebagai wujud penyembahan kepada Zat selain Allah, tidak seperti shalat, sedekah dan tawaf.

Namun, pendapat ini dibantah, karena tidak sedikit para penyembah bintang juga berpuasa.

Akan tetapi, bantahan ini dibantah kembali, karena pada dasarnya para penyambah bintang itu tidak meyakini bahwa bintang sebagai tuhan mereka. Mereka hanya meyakini bahwa bintang-bintang itu mampu menentukan nasib mereka.

Ketujuh, pahala ibadah seseorang digunakan untuk menutupi perbuatan maksiat yang pernah dilakukannya, kecuali pahala ibadah puasa. Ibnu Uyainah meriwayatkan, “Pada Hari Kiamat nanti, Allah s.w.t pasti menghitung amal setiap hamba-Nya. Lalu, Allah akan menambal semua perbuatan maksiat mereka dengan amal saleh mereka habis, dan yang tersisa hanya amal ibadah puasanya. Selain itu, Allah menanggung perbuatan-perbuatan dosa yang msaih tersisa, dan memasukkan mereka ke surge dengan ibadah puasa yang telah mereka laksanakan itu.”

Kedelapan, ibadah puasa merupakan ibadah yang tidak terlihat. Bahkan, para malaikat pencatat amal pun tidak dapat mencatatnya. Kebanyakan manusia tidak mengetahui orang yang sedang berpuasa. Berbeda dengan ibadah lainnya, seperti shalat, haji dan zakat.

Kesembilan, puasa merupakan amalan penghapus dosa. Imam Bukhari membuat satu bab khusus dengan judul “Puasa Adalah penggugur Dosa”. Dalam bab tersebut ada sebuah hadis riwayat Hudzaifah, Rasulullah s.a.w bersabda,

“Dosa seseorang akibat sikapnya terhadap keluarga, harta dan tetangganya dapat dihapus oleh ibadah shalat, puasa dan sedekah.” (HR.Bukhari)

Kesepuluh, Allah s.w.t. menyediakan satu pintu khusus bagi orang-orang yang berpuasa, yang diberi nama “ar-Rayyan.”

Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Sungguh, disurga terdapat satu pintu yang diberi nama ar-Rayyan. Pada Hari Kiamat nanti setiap orang yang berpuasa akan masuk surge melalui pintu tersebut. Tidak ada orang lain yang bisa masuk kedalamnya selain mereka. Pada saat itu, aka nada suara bertanya, “Di manakah orang-orang yang berpuasa?” Mereka pn bangun, lalu masuk ke surge melalui pintu yang telah Allah janjikan itu. Setelah mereka masuk, pintu itu ditutup kembali, sehingga tidak ada seorang pun yang bisa masuk didalamnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah s.a.w juga bersabda,

“Orang yang berpuasa dengan penuh keimanan dan harapan, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. AL-Bukhari dan Muslim)

Maksud “dengan penuh keimanan” adalah beriman kepada Allah. Dengan demikian, puasa orang kafir dianggap tidak sah. Sedangkan, yang dimaksud dengan “penuh harapan” adalah berharap memperoleh keridhaan Allah s.w.t. dan mendapatkan pahala dari-Nya.

 

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam