Home / dunia islam terkini / Puasa Nabi Muhammad dengan puasa Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad

Puasa Nabi Muhammad dengan puasa Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad

Masalah keempat puluh lima

Samakah puasa yang diajarkan Nabi Muhammad dengan puasa yang diajarkan nabi-nabi terdahulu ?

 

Para ulama menjelaskan, “Ajaran para nabi dalam masalah puasa ini berbeda-beda. Nabi Nuh a.s. selalu berpuasa sepanjang tahun. Nabi Daud a.s. berpuasa sehari tidak berpuasa sehari. Nabi Isa a.s. berpuasa sehari, setelah itu dia tidak berpuasa selama dua hari atau beberapa hari. Berbeda dengan puasa yang diajarkan Nabi Muhammad s.a.w., khusunya yang dilakukan sendiri. Beliau berpuasa terus menerus selama beberapa hari, hingga di lain waktu, beliau tidak berpuasa selama berpuasa sama sekali. Sekalipun demikian, Rasulullah tidak pernah puasa selama satu ulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan. Hal itu karena puasa seperti obat penawar, dimana satu macam obat penawar tidak akan digunakan kecuali sesuai dengan kadar penyakit yang diderita seseorang.”

Kaum Nabi Nuh a.s. adalah orang-orang yang berperawakan kuat. Nabi Daud a.s. juga merupakan orang yang kuat dan teguh pendirian.

Dia tidak akan lari jika bertemu musuh. (HR. Al-Buhari dan Muslim)

Sedangkan, Nabi Isa a.s. adalah orang yang memiliki fisik yang lemah serta tidak memiliki keluarga dan harta. Dalam hal ini, masing-masing. Karena Nabi s.a.w telah mengetahui tentang manfaat puasa, mengetahui seluk-beluk perawakannya dan jenis puasa yang sesuai dengan dirinya, maka Rasulullah memilih waktu-waktu puasa yang sesuai dengan kemashlahatan dirinya, lalu memilihkan beberapa jenis puasa untuk umatnya.

Di antara jenis puasa yang di maksud adalah:

Puasa ‘Asyura. Puasa ini disyariatkan untuk memperingati hari dimana Allah s.w.t. memberikan pertolongan kepada Nabi Musa a.s. ketika melawan Fir’aun dan kaumnya. Sebagai wujud sykur atas pertolongan tersebut, Nabi Musa a.s. pun berpuasa pada hari itu. Puasa yang dilakukan olehnya itu, akhirnya menjadi sunah yang diikuti oleh Ahlul Kitab dan bangsa Arab. Lalu, Rasulullah s.a.w. juga menetapkan puasa tersebut sebagai bagian dari syariatnya.

Puasa Arafah. Rahasia disyariatkan puasa ini adalah, orang yang melakukan puasa tersebut akan menyerupai orang-orang yang sedang menunaikan ibadah haji. Selain itu, puasa tersebut menyebabkan orang yang melakukannya mendapat rahmat Allah seperti yang dilimpahkan kepada orang-orang yang sedang berhaji. Adapun kelebihan puasa Arafah dari puasa Asyura adalah puasa Arafah dapat memasukkan orang yang melakukannya ke dalam limpahan rahmat yang telah lewat. Dengan demikian, seakan-akan Nabi s.a.w. ingin memasukkan umatnya ke dalam sebuah kolam yang penuh dengan rahmat berupa penghapusan dosa-dosa yang telah lalu dan yang akan datang.

Puasa 6 hari pada bulan Syahwal. Abu Ayub r.a. meriwyatkan, Rasulullah s.a.w. bersabda, “Orang yang berpuasa Ramadhan, kemudian dia mengikutinya dengan puasa selama 6 hari pada bulan syawal, maka puasanya itu seperti puasa satu tahun.” (HR. Muslim)

Kedudukan puasa ini seperti kedudukan shalat sunah rawatib yang mengiringi shalat wajjib. Shalat sunah rawatib akan menutup kekurangan-kekurangan yang ada dalam shalat wajib.

Puasa 3 hari setiap bulan. Karena, setiap kebaikan akan dibalasa dengan sepuluh kebaikan, maka pahala dari puasa 3 hari pun bisa menyamai puasa satu tahun. Mengenai hari-hari mana saja yang disunahkan melakukan puasa tersebut, terdapat perbedaan riwayat. Salah satu riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda, “Abu Dzar! Jika kamu ingin berpuasa selama tiga hari dalam satu bulan, maka berpuasalah pada hari ke-13, 14 dan 15.” (HR. at-Tirmidzi dan An-Nasa’i)

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam