Home / dunia islam terkini / SHALAT WANITA YANG MENDERITA ISTIHADHAH (MUSTAHADHAH)

SHALAT WANITA YANG MENDERITA ISTIHADHAH (MUSTAHADHAH)

wanita istihadhoh sebelumnya sudah kita bahas dalam pengertian istihadhah pada bab-bab sebelumnya maka dalam bab ini kita akan membahas sipelaku istihadhoh atau mustahadhah, Adapun mengenai wanita mustahadhah, beberapa hadits menyatakan:Artinya:“Dari ‘Adi bin Tsabit, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi saw. pernah bersabda mengenai wanita mustahadhah: “Ia tak perlu shalat pada hari-hari (yang biasanya ia mengalami) haid, kemudian mandilah dan berwudhu’ tiap kali hendak shalat, dan dia tetap wajib berpuasa dan melakukan shalat”. (H.R. Abu Daud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)

Artinya:‘Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Fatimah binti Abi Hubaisy datang kepada Nabi saw. lalu berkata: “Sesungguhnya aku ini seorang wanita mustahadhah atau orang yang mengeluarkan darah istihadhah  hingga tak kunjung suci, maka apakah aku harus meninggalkan shalat (terus-terusan)?”Nabi berkata kepadanya: “Tinggalkan shalat pada hari-hari haidmu saja, kemudian mandilah dan berwudhu’ tiap kali hendak shalat, seterusnya lakukanlah shalat sekalipun ada darah menetes pada tikar”. (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, At-Tirmidzi, Abu Daud, An-Nasa’I dan Ibnu Hibban)

Menanggapi hadits di atas, Asy-Syaukani berkata: “Hadits itu hanya menunjukkan wajibnya wudhu’ tiap kali hendak shalat, sedang mandi hanyalah wajib dilakukan satu kali saja pada saat habisnya masa haid.”Itu pendapat Asy-Syaukani. Tapi sebenarnya masalah ini memang banyak diperselisihkan oleh para Ulama.

Di antaranya ada yang berpendapat, berdasarkan hadits tsb. berarti mandi itu wajib pula dilakukan tiap kali hendak shalat. Dan ada pula yang mengatakan, yang wajib hanya wudhu’ saja tiap kali hendak shalat. Sedang mandi hanyalah satu kali saja wajib dilakukan, yaitu ketika masa haid habis.

Begitu banyaknya perbedaan pendapat, sampai Asy-Syaukani sendiri mengatakan: “Panjang lebarlah perkataan para pengarang Fiqih mengenai wanita mustahadhah, dan begitu tidak mantapnya pendapát-pendapat mereka, sehingga sulit difaham oleh para pelajar yang cerdas sekalipun.

”Hanya kami sendiri lebih cenderung kepada perkataan Asy-Syaukani di tempat lain: “Dan kita tahu, jikalau wanita tahu cara  membedakan manakah darah haid dan mana yang istihadhah, maka ia harus berpedoman dengan darah haid itu saja dan lakukanlah ibadat berdasarkan datangnya darah haid itu atau tidaknya.

Kemudian kalau haid itu telah mencapai kadarnya, maka wanita itu telah berkewajiban mandi. Dan seterusnya hukum mengenai istihadhah menurut yang telah ditetapkan dalam hadits, yakni harus berwudhu’ tiap kali hendak shalat. Dan dengan wudhu’ itu tak boleh melakukan shalat lebih dari yang fardhu saja.

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam