Home / dunia islam terkini / SUAMI MEMANDIKAN MAYAT ISTERINYA ATAU SEBALIKNYA DAN SIFAT DART PEMBUNGKUS MAYAT PEREMPUAN

SUAMI MEMANDIKAN MAYAT ISTERINYA ATAU SEBALIKNYA DAN SIFAT DART PEMBUNGKUS MAYAT PEREMPUAN

JANAZAH

SUAMI MEMANDIKAN MAYAT ISTERINYA ATAU SEBALIKNYA

dalam hal ini banyak hadits tentang hal ini salah satunya dalah sebagai berikut :

Artinya:

“Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. pulang ke rumahku sekembalinya dari menguburkan mayat, waktu itu kepalaku terasa pusing, dan saya katakan, “Ah, kepalaku.”

Maka kata Rasul: “Bahkah aku juga, ah kepalaku.

Takkan membahayakan engkau andaikata engkau mati sebelum aku, lalu aku yang memandikan engkau, membungkus, kemudian menyembahyangi dan menguburkan”. (H.R. Ahmad, Ibnu Majah, Ad-Darimi, Ibnu Hibban, Ad-Daruquthni dal Al-Baihaqi)

Hadits di atas menunjukkan bahwa wanita boleh dimandikan oleh suaminya bila meninggal dunia. Dan berdasarkan kias, ia boleh memandikan suaminya. Bahkan ada berita bahwa Asma .memandikan Abu Bakar, dan Ali —Karramallahu Wajhah– telah memandikan isterinya, Fatimah. Dalam pada itu tidak terjadi protes dari kalangan para sahabat Nabi yang lain terhadap Ali maupun Asma. Jadi agaknya itu sudah menjadi Ijma.

SIFAT DART PEMBUNGKUS MAYAT PEREMPUAN

Oleh karena yang telah umum dilakukan, wanita memandikan mayat wanita pula, maka saya pandang perlu untuk menerangkan sifat dari pembungkus (kafan) bagi mayat wanita, yang berbeda dari kafan untuk laki-laki. untuk shalat mayit sudah jelas kita ketahui hukumnya yaitu fardhu kifayah, artinya cukup saudara muslim kita yang mensholati namun jika tidak ada yang mau mensolatinya maka semua umat muslim berdosa itu lah pengertian dari fardhu kifayah.  dalam hal ini kta akan membahas bagaimana cara memandikan dan mengkafani mayit menurut ajaran islam,

Artinya:

“Dari Laila binti Qanif Ats- Tsaqafiyah ra. ia berkata: “Saya adalah termasuk yang memandikan mayat Ummu Kultsum binti Rasulullah saw. ketika ia wafat. Waktu itu yang pertama-tama Rasulullah saw. Berikan kepada kami ialah kain sarung, kemudian baju, kemudian kudung, kemudian kain pembungkus, kemudian sesudah itu saya bungkus lagi dengan kain yang lain.”

Kata Laila pula: “Rasulullah saw. ada dipintu, memegang kafan puterinya, sambil memberikan selembar demi selembar kepada kami”. (H.R. Ahmad dan Abu Daud)

Al-Bukhari mengatakan: Kata Al-Hasan, “Kain yang kelima diikatkan pada dua paha dan dua pantat di balik baju.”

Hadits di atas menunjukkan bahwa yang disyari’atkan mengenai pembungkus mayat wanita ialah kain sarung, baju, kudung, kain pembungkus, dan satu lagi kain pembungkus yang lain.

Demikian pula dan Ummu ‘Athiyah ra. ia mengatakan:

Artinya:

‘Dan kami bungkus ia (mayat wanita) dalam lima lembar kain, dan kami kerudungi kepalanya seperti mengerudungi orang hidup.”

Demikian menurut tambahan Al-Khawarizmi, yang menurut Al Hafizh, tambahan ini isnadnya shahih.

Sementara ada segolongan lain mengatakan: “Pada dada mayat wanita itu perlu ditali, agar kain-kain pembungkusnya menjadi ringkas. Dan menurut pendapat yang lebih kuat dalam madzhab Syafi’i dan Hambali, tidaklah makruh bila mayat wanita itu diberi baju kurung (qamish).

MASALAH 1:

Bolehkah orang yang dalam keadaan junub .dan haid memandikan mayat?

Boleh, karena kedua-duanya suci dari najis, dengan dalil sabda Nabi saw.:

Artinya:

“Orang mu ‘min itu tidaklah najis”. (H.R. Jama’ah)

MASALAH 2:

Bolehkah mayat dibungkus dengan kain sutra?

Untuk mayat laki-laki memang tidak boleh dibungkus dengan kain sutra, tapi boleh saja untuk mayat wanita. Karena sutra tidak diharamkan atas wanita, sekalipun hal itu makruh dilakukan, namun ada baiknya kita kembali kepada hadits-hadits bagaimana cara mengkafani mayit yang hanya menggunakan kain kafan saja.

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam