Home / dunia islam terkini / SUARA WANITA DALAM SHALAT MENURUT ISLAM

SUARA WANITA DALAM SHALAT MENURUT ISLAM

 

Para Ulama tidak sependapat tentang seberapa batas suara tinggi dan rendah (jahar dan israr) bagi wanita dalam shalatnya. Dan manakah di antaranya yang patut kita jadikan pegangan ?

Para Ulama Madzhab Maliki berpendapat, bahwa suara jahar seperti mengunakan pengeras suara bagi wanita hanya satu macam, yaitu bila dirinya sendiri telah dapat mendengarnya. Sedang israrnya ialah dengan telah tergeraknya lidah. Demikian pendapat mereka yang mu’tamad.

Sedang Para Ulama Syafi’i mengatakan: Suara jahar setidaknya bila orang yang ada disampingnya –sekalipun hanya seorang, baik lelaki atau perempuan– dapat mendengar. Hanya saja wanita memang tidak boleh meninggikan suaranya bila ada orang lelaki bukan muhrim. Sedang suara rendah setidaknya agar dalam keadaan tidak ada gangguan dapat didengar oleh dirinya sendiri.

Adapun menurut para Ulama Hambali, wanita tidaklah disunnatkan meninggikan suaranya, sekalipun tidak berdosa bersuara tinggi bila tidak didengar oleh lelaki asing (bukan muhrim). Dan kalau ada lelaki asing yang mendengar, maka meninggikan suara bagi wanita dalam islam adaiah terlarang.

Dan bagaimanakah pandangan para Ulama Hanafi? Mereka mengatakan, Suara perempuan tinggi dalam shalat, paling sedikit orang lain yang tidak berdekatan harus dengar, seperti seluruh jamaah yang ada pada shaf awal. Jadi kalau yang mendengar hanya satu dua orang saja, maka itu belum cukup. Sedang suara yang setinggi-tingginya tidaklah terbatas.

Adapun suara rendah itupun harus didengar oleh dirinya sendiri atau satu dua orang yang ada di dekatnya. Adapun sekedar gerakan lidah, sekalipun sudah dapat mengeluarkan huruf-huruf dengan tepat, yang paling benar itu belum cukup.

Adapun bagi wanita, seperti yang telah dibahas dalam bab Menutup Aurat, suaranya menurut pendapat yang mu’tamad dan mereka, bukanlah aurat. Maksudnya, suara wanita dalam islam , baik dalam shalat maupun di luar shalat hukumnya sama-sama boleh ditinggikan, seperti yang telah kita terangkan di atas.

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam