Home / dunia islam terkini / SYARAT BAHAN PENUTUP AURAT DAN KEADAAN DARURAT JIKA TIDAK MENEMUKAN PENUTUP AURAT DAN HANYA MENEMUKAN BAHAN NAJIS SAJA

SYARAT BAHAN PENUTUP AURAT DAN KEADAAN DARURAT JIKA TIDAK MENEMUKAN PENUTUP AURAT DAN HANYA MENEMUKAN BAHAN NAJIS SAJA

SYARAT-SYARAT BAGI BAHAN PENUTUP AURAT DALAM SHALAT

Bagi bahan penutup auratseperti JILBAB, HIJAB, baik itu baju atau lainnya, dipersyaratkan harus tebal. Bahan yang tipis tidak sah sebagai penutup aurat, yakni bahan yang masih menampakkan warna kulit yang ada di bawahnya. intinya bahan yangdigunakan untuk mnutup aurat haruslah bahan yang tebal agar tidakb terlihat bagian tubuh didalamnya, jika tipis dan kelihatan lekuk tubuhnya maka iu bukan termasuk menutup aurat.

kain tebal

SEKARANG BAGAIMANAKAH BILA KARENA DARURAT HINGGA TIDAK MENEMUKAN SESUATU BUAT MENUTUP AURAT?

Dalam hal ini para Ulama Hanafi dan Hambali mengatakan, lebih baik wanita itu shalat sambil duduk dengan merapatkan kedua pahanya satu sama lain. Sedang untuk ruku’ dan sujudnya cukup memberi isyarat. Dan tambahan dari para Ulama Hanafi, agar kakinya dijulurkan ke arah kiblat, maksudnya supaya lebih tertutup.

dalam hal ini kalau dikembalikan dalam dunia sekarang ini  tntu sedikit sekali keadaan seperti ini, jadi untuk kehidupan sekarang mungkin hampir tidak ada yang keadaannya seperti dicontokan kecuali sedikit sekali.

BAGAIMANA KALAU YANG ADA HANYA BAHAN PENUTUP YANG NAJIS, SEPERTI KULIT BABI, ATAU KAIN YANG TERKENA NAJIS YANG TAK BISA DIMAAF?

Menjawab pertanyaan tersebut, para Ulama Maliki berkata, bahwa wanita itu boleh melakukan shalat sekalipun dengan mengenakan pakaian najis atau terkena najis, dan tidak wajib mengulangi shalatnya. Hanya dinadabkan saja mengulangi shalat bila kemudian menemukan pakaian yang suci, sedang waktu shalat masih tersisa.

Lain Maliki, lain pula para Ulama Hambali. Mereka berpendapat bahwa dalam hal ini wanita itu hanya boleh melakukan shalat dengan pakaian yang kena najis saja, dan nanti wajib mengulangi shalatnya. Sedang kalau yang ada adalah pakaian najis –jadi bukan terkena najis–, seperti kulit babi, maka lebih baik shalat sambil bertelanjang, dan tak perlu mengulangi shalatnya.

dari pendapat diatas sudah jelas bahwa ketiaka keadaan kita seperti diatas maka boleh kita msholat menggunakan pakaian najis dan jika bertemu pakaian suci sebaiknya sholatnya diulangi jika masih ada waktu untuk sholatnya.

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam