Home / dunia islam terkini / SYARAT WAJIB SAH PUASA RAMADHAN

SYARAT WAJIB SAH PUASA RAMADHAN

sah PUASAMasalah Ketiga

Apa syarat-syarat melaksanakan puasa Ramadhan?

 

Syarat puasa Ramadhan ada empat, yaitu:

Pertama, Islam atau muslim .

Berdasarkan syarat ini, orang kafir dan orang murtad tidak diwajibkan berpuasa dan melaksanakan shalat. Karena, puasa merupakan alah satu ibadah kepada Allah.

Allah s.w.t. berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, kalian diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan terhadap umat sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Puasa tidak diwajibkan kepada orang kafir dan orang murtad karena mereka tidak meyakini prinsip dasar agama Islam. Puasa mereka tidak mungkin diterima, bahkan semua amal kebajikan mereka pun ditolak. Mereka tidak meyakini keesaan Allah dan tiak mengakui kebenaran risalah Nabi Muhammad.

Ketika orang kafir masuk Islam, dia tidak diwajibkan mengganti shalat dan puasa yang pernah ditinggalkannya. Demikian pula dengan orang murtad, ketika dia kembali memeluk Islam (muallaf), dia tidak diwajibkan mengganti puasa dan shalat yang pernah ditinggalkannya. Dalam kondisi seperti itu ia cukup melakukan tobat nasuha.

Kedua, berakal.

Berdasarkan syarat ini, orang gila tidak diwajibkan berpuasa. Allah s.w.t. hanya memerintahkan puasa kepada orang-orang yang berakal.

Allah s.w.t. berfirman,

“Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ra’d: 4)

Allah s.w.t. juga berfirman, “sungguh, dalam penciptaan langit dan bumi serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)

Dalam ayat yang lain, Allah s.w.t berfirman, “Mereka berkata,’Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan peringatan itu, niscaya kami tidak termsuk penghuni neraka yang menyala-nyala.’ “ (QS. Al-Mulk: 10)

Atas dasar ini, orang yang tidak dapat berpikir atau tidak berakal tidak dituntut mengerjakan syariat, kewajiban dan hukum Islam.

Ketiga, akil baligh.

secara umum akil baligh menurut islam merupakan suatu masa pertumbuhan dari balita ke remaja atau dewasa, yang menyebabkan pelakunya dibebani tanggung jawab agama dan dosa, dan biasanya muncul tanda-tanda seperti mimpi basah, haid, oleh karena itu Balita atau anak yang belum baligh tidak wajib berpuasa. Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Hukum tidak dapat diterapkan pada tiga macam orang: orang tidur sampai dia bangun, anak kecil hingga ia baligh, dan orang gila hingga dia sembuh.” (HR. Nasa’i)

Sebagian ulama berpendapat, ibadah puasa juga diwajibkan kepada anak kecil yang sudah mampu melaksanakannya. Pendapat ini didasarkan pada hadist Nabi s.a.w. dan riwayat para sahabat yang menyebutkan bahwa mereka telah memerintahkan anak-anak untuk berpuasa.

Namun yang perlu ditegaskan di sini, perintah Nabi dan tindakan yang dilakukan para sahabat tersebut bukan untuk menunjukkan hukum puasa itu wajib bagi anak-anak, tetapi lebih sebagai sebuah upaya melatih, membiasakan dan mendidik anak-anak. Dengan demikian, boleh saja anak kecil diperintahkan berpuasa jika dia mampu, bahkan boleh dipukul agar terbiasa berpuasa. Meskipun demikian, puasa tidak wajib bagi mereka. Seperti aturan dalam ibadah shalat, anak kecil diperintah mengerjakan shalat jika dia telah mencapai usia 7 tahun, boleh dipukul jika dia meninggalkan shalat ketika usianya mencapai 10 tahun.

 

       Keempat, mampu.

Orang yang tidak mampu melaksanakan puasa tidak wajib berpuasa, baik sementara maupun selamanya, dengan syarat ia menggantinya dilain hari.

Allah s.w.t. berfirman,

“Jika diantara kalian ada yang sakit atau dalam perjalanan lalu berbuka, ia wajib berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah: 184)

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam