Home / dunia islam terkini / SYARAT-SYARAT TREND BUSANA WANITA MUSLIM 2016 TERBARU

SYARAT-SYARAT TREND BUSANA WANITA MUSLIM 2016 TERBARU

 

 

Allah SWT. telah menjelaskan syarat-syarat yang wajib dipenuhi bagi trend busana wanita muslim 2016 dalam firman-Nya:
Artinya:“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mu ‘min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Al-Ahzaab 33:59)

Dan firman-Nya:

Artinya:“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan” (Q.S. An-Nuur 24:31) Untuk kerudung kepala, telah Allah jelaskan dengan firman-Nya:

Artinya:“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya” (idem) Allah Ta’ala juga melarang wanita berlagak dan mempertontonkan kecantikannya, dalam firman-Nya:

Artinya:“Dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dulu” (Q.S. Al-Ahzaab 33:33)

Dulu di jaman Jahiliyah sebelum kedatangan agama Islam kaum wanita banyak yang melemparkan ujung kerudung kepala mereka ke arah punggung, dengan memperlihatkan leher dan telinga mereka. Dengan ayat di atas Allah melarang perbuatan seperti itu.

Menurut H.R. Ahmad dan Muslim yang artinya:“Dan dari Abu Hurairah ra. berkata: Sabda Rasul Allah saw.: “Ada dua golongan ahli neraka yang aku belum pernah melihatnya, yaitu kaum lelaki memegang cemeti bagaikan ekor sapi dipukulkan pada orang lain, dan perempuan-perempuan yang berpakaian tapi telanjang, serong dan menyerongkan, kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring. Mereka tidak bisa masuk sorga dan tak bisa merasakan baunya, padahal bau sorga itu sebenarnya dapat dirasakan dari jarak sekian, sekian”.

Asy-Syaukani mengatakan: “Kata-kata ‘dua golongan ahli neraka’ dapat diartikan sebagai kecaman terhadap dua golongan tersebut. Bahkan menurut Imam An-Nawawi, hadits ini termasuk di antara sekian mu’jizat Nabi. Karena kedua golongan itu sekarang –maksudnya di masa An-Nawawi– benar-benar ada. Padahal kita tahu bahwa Imam An-Nawawi itu adalah seorang Ulama hidup pada abad ke-5 H.

Bagai manakah kira-kira kalau beliau masih hidup sekarang?”Asy-Syaukani meneruskan keterangannya; Adapun kata-kata ‘berpakaian tapi telanjang’ menurut salah seorang Ulama maksudnya: mau meni’mati anugerah Allah tapi enggan mensyukurinya.

Dan ada juga yang mengartikannya: menutupi sebagian tubuhnya dan membiarkan bahagian yang lain terbuka, biar kecantikannya dilihat orang dst. Berarti mereka telanjang juga.

Sementara ada juga yang mengartikannya: memakai pakaian tipis temaram sehingga warna kulitnya tetap kelihatan, jadi apa gunanya memakai pakaian?

Pendapat-pendapat itu semuanya benar. Karena wanita yang berpakaian seperti itu sama artinya dengan ‘telanjang’ dan rasa syukur akan ni’mat Allah, tapi ni’mat Allah itu ‘dipakainya’ juga. Jadi antara kedua pendapat itu sebenarnya tidak ada pertentangan.“Serong” maksudnya tak mau mematuhi perintah Allah, tak sudi memelihara apa yang diperintahkan Allah memeliharanya.

“Menyerongkan”: mengajak wanita-wanita lain agar meniru perbuatannya.

Tapi ada juga yang mengartikannya: “Serong dan menyerongkan”, yakni berlenggak-lenggok jalannya dengan menggoyang-goyangkan pundak mereka. Sedang yang lain mengartikannya, berjalan meniru tingkah laku pelacur.

“Kepala mereka seperti punuk-punuk unta” maksudnya, mereka atur kepala mereka sedemikian rupa dengan kerudung, ikat kepala atau lainnya yang menarik hingga orang tertawan melihatnya.

“Al-Bukht” adalah unta Khurasan dengan punuk yang tinggi. Yakni suatu gambaran dan wanita yang mensasak rambut kepalanya tinggi-tinggi seperti yang kita lihat kini.Mengakhiri keterangannya,

Asy-Syaukani mengatakan, bahwa hadits di atas ditulis oleh penyusunnya sebagai dasar pengharamannya atas pakaian wanita yang masih menampakkan warna maupun bentuk tubuh, hal mana juga merupakan salah satu tafsir dari ayat tersebut di atas,

dan pemberitahuan bahwa siapa pun yang melakukan perbuatan seperti itu adalah termasuk penghuni neraka kelak, bahkan mencium bau sorga saja tidak, padahal keharuman sorga itu sudah dapat dirasakan dan jarak perjalanan lima ratus tahun; adalah suatu ancaman berat yang menunjukkan betapa tingkat keharaman dan apa yang terkandung dalam hadits, yaitu sifat-sifat dua golongan yang tak perlu kita tiru. (Nail Al-Authar 2:212)

Dari keterangan di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa pakaian wanita wajib memenuhi syarat dan sifat-sifat yang ada dalam trend busana wanita muslim 2016  antara lain :

1.    Menutupi seluruh badan selain yang sudah dikecualikan, yakni wajah dan dua telapak tangan.

2.    Tidak ketat sehingga masih menampakkan bentuk tubuh yang di tutupinya.

3.    Tidak tipis temaram sehingga warna kulit masih bisa dilihat.

4.    Tidak menyerupai pakaian lelaki.

5.    Tidak berwarna menyolok sehingga menarik perhatian orang.

6.    Tidak menyerupai pakaian wanita kafir.

7.    Dipakai bukan dengan maksud memamerkannya.

Hadits-hadits lain yang melandasi kesimpulan di atas masih banyak. Di antaranya ialah hadits yang telah kita sebutkan di atas, dan juga hadits-hadits berikut ini:

Artinya:“Dari Usamah bin Zaid ra. ia berkata: Rasulullah saw. pernah memberikan kepadaku kain tebal dan Qubti (Mesir), kain itu telah beliau terima sebagai hadiah dan Dahtah Al-Kalabi. Tapi kemudian saya berikan pakaian itu untuk isteriku. Maka tegur Rasulullah saw. kepadaku: “Kenapa tidak kamu pakai saja kain Qubti itu?” : Saya jawab: “Ya Rasul Allah, kain itu telah saya berikan kepada isteriku.” Maka sabda beliau: “Suruhlah dia mengenakan pula baju rangkapan di bawah kain Qubti itu. Karena aku benar-benar khawatir kain itu akan tetap menampakkan besarnya tulang-tulang (lekuk-lekuk tubuh) isterimu. (H.R. Ahmad, dan diriwayatkan juga dalam Al-Mukhtar oleh Ibnu Abi Syaibah, Al-Bazzar, Ibnu Sa’ad, Ath-Thabrani, Al-Baihaqi, dan Adh-Dhiya’)

 

Hadits di atas menunjukkan bahwa wanita wajib memakai pakaian yang tidak menampakkan bentuk tubuhnya, dan bahwa hal ini adalah merupakan salah satu syarat penutup aurat. Dalam hadits itu Rasulullah menyuruh pakai kain rangkapan, karena kain Qubti itu berupa baju tipis yang tidak menutupi bahkan masih menampakkan warna kulit yang ditutupinya.

Artinya:“Dan dari Ummu Salamah ra., bahwa Rasulullah saw. pernah menemui Ummu Salamah, yang waktu itu sedang memperbaiki letak kudungnya. Maka sabda beliau: “Lipatlah sekali safa, jangan dua kali” (H.R. Ahmad dan Abu Daud, dan dianggap kuat oleh Ibnu Hibban)Isteri Nabi mulia itu disuruhnya melipat kudungnya sekali saja, jangan dua kali, maksudnya agar jangan menyerupai lipatan serban yang dipakai lelaki. Karena menyerupai lelaki adalah terlarang.

Artinya:“Dan dari Abu Hurairah ra.: Bahwa Nabi saw. mengutuk laki-laki yang berpakaian seperti pakaian wanita, dan wanita yang berpakaian seperti pakaian laki-laki” (H.R. Ahmad, Abu Daud, dan An-Nasa’I, dan tokoh-tokoh sanadnya adalah tokoh-tokoh hadist shahih)

Artinya:“Dan dari Ibnu ‘Abbas ra. berkata: “Rasulullah saw. mengutuk wanita yang menyerupai lelaki, dan lelaki yang menyerupai wanita” (H.R. Al-Bukhari, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa’I dan Ibnu Hibban)

Artinya:“Dan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash, bahwa dia pernah melihat seorang wanita menyandang sebuah busur panah sambil berjalan seperti orang lelaki. Maka Abdullah bertanya: “Siapa perempuan ini?” Seseorang menjawab: “Ini Ummu Sa‘id binti Abu Jahal “. Maka berkatalah Abdullah: “Pernah aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Bukanlah dari golongan kami wanita yang menyerupai lelaki” (H.R. Ahmad)

Dari hadits-hadits di atas jelas sekali bagi kita, bahwa laki-laki menyerupai wanita, dan wanita menyerupai lelaki adalah haram. Karena tak mungkin dikutuk jika itu tidak haram. Dan inilah madzhab atau pendapat Ulama kebanyakan (Jumhur).

Demikian pula Abu Daud telah mengeluarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.:Artinya:“Pernah dihadapkan kepada Rasulullah saw. seorang banci, kedua tangan dan kakinya berpulas inai. Maka bertanyalah Rasulullah saw.: “Kenapa ini?” Para sahabat menjawab: “Ia meniru orang-orang perempuan.”Laki-laki banci itu kemudian disuruh asingkan ke Baqi’, dan seseorang bertanya: “Ya Rasul Allah, kenapa tidak tuan bunuh saja?”Jawab Rasul: “Sesungguhnya aku dilarang membunuh orang-orang yang melakukan shalat.” Bahkan Al-Baihaqi juga meriwayatkan, bahwa Abu Bakar pernah mengusir seorang banci, dan demikian pula Umar pernah melakukan hal yang sama.Begitu pula telah diriwayatkan secara otentik dari Rasulullah saw. bahwa mengenai wanita yang menyerupai lelaki, beliau bersabda:Artinya:“Usir mereka dari rumahmu” (Asy-Syaukani menyebutkannya dalam Nail Al-Authar 2:214)

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam