Home / dunia islam terkini / Tanggungan hutang puasa yang ditinggal mati

Tanggungan hutang puasa yang ditinggal mati

Masalah ketiga puluh dua

Jika seseorang meninggal dalam keadaan masih memiliki tanggungan puasa, apa yang harus dilakukan keluarganya ?

 

Orang yang meninggal dalam keadaan masih memiliki tanggungan hutang puasa baik ramadhan(wajib) maupun sunnah , padahal sebelum meninggal dia sebenarnya mampu mengerjakannya, maka para ahli fikih berbeda pendapat mengenai hukum tersebut:

Imam Abu Hanifah, Malik dan Syafi’I berpendapat bahwa wali dari orang tersebut tidak wajib mengerjakan puasa untuknya, tetapi dia wajib memberi makan sebanyak 1 mud (kira-kira 6 ons) untuk satu hari yang ditinggalkan.

Adapun menurut pendapat para pengikut mazhab Sya fi’I wali dari si mayit disunahkan mengerjakan puasa itu merupakan fidyah bagi puasa yang telah ditinggalkannya. Dengan puasa tersebut dia dapat membebaskan si mayit dari tanggungan puasanya. Dan dengan demikian, sang wali tidak perlu lagi memberi makan kepada orang miskin.

Yang dimaskud wali disini adalah salah seorang kerabat si mayit, ahli waris ataupun yang lainnya. Jika orang yang bukan termasuk kerabat si mayit ingin berpuasa dengan tujuan menghilangkan tanggungan si mayit, maka puasanya itu di anggap sah jika dia telah mendapat izin dari wali si mayyit. Jika dia tidak mendapatkan izin, maka puasanya tidak sah.

Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Orang yang mati dalam keadaan masih memiliki tanggungan puasa, hendaklah walinya mengerjakan puasa untuknya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat al-Bazzar ada redaksi tambahan, “Jika dia menghendaki hal itu.” (Sanad hadis ini hasan)

Imam Ahmad dan para pemilik kitab sunan lainnya telah meriwayatkan dari Ibn Abbas r.a. bahwa seorang laki-laki pernah mendatangi Nabi s.a.w., kemudian berkata, “Rasulullah! Ibu ku telah meninggal dunia, sedangkan dia masih memiliki tanggungan puasa sebanyak satu bulan. Apakah aku harus membayarnya?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Seandainya ibumu itu mempunyai hutang, apakah kamu akan melunasi hutangnya?” Orang itu menjawab, “Ya.” Rasulullah s.a.w. pun bersabda, “Ketahuilah bahwa hutang Allah itu lebih utama untuk dilunasi.”

Imam Nabawi berkata, “Pendapat ini merupakan pendapat yang dibenarkan oleh para ulama fikih.”

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam