Home / Uncategorized / Tata Cara beri’tikaf sesuai sunnah Rasululloh SAW di bulan Ramadhan

Tata Cara beri’tikaf sesuai sunnah Rasululloh SAW di bulan Ramadhan

Masalah Kelima Puluh Empat

Bagaimanakah cara beri’tikaf?

 

Rasulullah selalu melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Yang dimaksud dengan i’tikaf adalah upaya untuk selalu berada di masjid dengan tujuan untuk memfokuskan diri dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah s.w.t. l’tikaf merupakan salah satu sunah yang telah ditetapkan dalam Kitabullah dan Sunah Rasul-Nya.

Allah s.w.t. berfirman, “Janganlah kamu campuri mereka itu,sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya! Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. Al-Baqarah:187)

Abu Sa’id al-Khudri r.a. meriwayatkan bahwa Nabi s.a.w. pernah i’tikaf pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, kemudian melakukan i’tikaf pada sepuluh malam pertengahan.

Rasulullah s.a.w. bersabda,

 “Aku pernah beri’tikaf pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan agar mendapatkan malam Lailatul Qadar. Kemudian aku beri’tikaf pada sepuluh malam pertengahan. Tiba-tiba Jibril mendatangiku dan berkata, ‘Malam itu ada di sepuluh malam terakhir.” Karena itu, bagi orang yang ingin beri’tikaf hendaklah beri’tikaf di malam-malam itu.” (HR. Muslim)

Dalam kitab Shahih Bukhari Muslim disebutkan bahwa Aisyah berkata, “Nabi s.a.w. selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan hingga Allah mewafatkannya. Kemudian istri-istrinya juga selalu beri’tikaf pada han-han itu setelah beliauwafat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Nabi s.a.w. selalu beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Dan pada tahun wafatnya, dia beri’tikaf selama 20 hari. (HR.Bukhari)

Aisyah r.a. meriwayatkan, “Ketika Nabi s.a.w. ingin beri’tikaf, beliau melakukan shalat Shubuh terlebih dahulu, setelah itu dia baru masuk ke tempat i’tikafnya. Ketika Aisyah meminta izin kepada Nabi untuk beri’tikaf, Nabi pun memberikan izin kepadanya, lalu Aisyah membuat kemah untuk dirinya sendiri. Hafshah juga meminta kepada Aisyah untuk memintakan izin kepada Nabi s.a.w.. Aisyah pun melakukan hal itu, lalu dia membuatkan kemah untuk Hafshah. Ketika Zainab melihat hal itu, dia juga memerintahkan kepada seseorang untuk membuatkan kemah untuknya, maka kemah untuknya pun dibuatkan. Ketika Nabi melihat kemah-kemah itu, dia pun bersabda, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Rumah untuk Aisyah, Hafshah dan Zainab.” Nabi bersabda lagi, “Apakah mereka mengharapkan kebaikan dengan cara seperti ini? Kemasilah kemah-kemah itu sehingga aku tidak melihatnya lagi.” Kemah-kemah itu pun dilepaskan, lalu Nabi meninggalkan i’tikaf yang dilakukannya pada bulan Ramadhan itu. Beliau kemudian beri’tikaf pada sepuluh hari pertama dan bulan Syawal.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam Ahmad ibn Hanbal berkata, “Aku tidak pernah mengetahui ada seorang ulama pun yang tidak sependapat, bahwa i’tikaf itu merupakan perbuatan sunnah.”

Yang dimaksud dengan i’tikaf adalah memutuskan semua interaksi dengan orang lain agar seseorang dapat lebih leluasa melaksanakan ibadah. I’tikaf dilakukan di dalam masjid dengan tujuan mengharapkan keutamaan serta untuk mendapatkan Lailatul Qadar. Oleh karena itu, orang yang sedang beri’tikaf harus menyibukkan dirinya dengan berdzikir, membaca al-Qur’an, shalat, dan ibadah-ibadah lainnya. Lalu, menghindarkan diri dan urusan dunia yang tidak penting baginya. Shafiyyah r.a meriwayatkan bahwa Nabi s.a.w. pernah beri’tikaf. Dan pada suatu malam, aku mendatanginya dengan maksud menjenguknya, lalu aku pun bercakap-cakap dengannya. Setelah itu, aku berdiri untuk kembali ke rumahku, dan Nabi pun berdiri mengikutiku.” (HR. Bukhari)

Orang yang sedang i’tikaf diharamkan berhubungan badan ataupun hal-hal lain yang biasa dilakukan sebelum berhubungan badan seperti mencium dan menyentuh isterinya dengan penuh syahwat.

Allah s.w.t. berfirman, “Janganlah kalian cam pun mere ka, sedang kalian beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187)

Adapun mengenai keluarnya orang yang sedang beri’tikaf dan masjid, ketahuilah bahwa hal itu dibolehkan jika dilakukan dengan sebagian anggota badannya saja, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dan Aisyah ra bahwa dia berkata, “Nabi s.a.w. pernah mengeluarkan kepalanya dan masjid padahal dia sedang beni’tikaf, lalu aku membasuh kepalanya padahal saat itu aku sedang haid.” (HR Bukhari). pada riwayat lain disebutkan bahwa Aisyah pernah menyisir rambut Nabi s.a.w. Sementara saat itu dia sedang haid, dan Nabi s.a.w. sedang beri’tikaf di masjid. Nabi menyodorkan kepalanya kearah Aisyah yang sedang berada di kamarnya.” (HR Bukhari).

Tetapi jika keluarnya orang itu dilakukan dengan seluruh anggota badannya, maka hal itu dapat dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

Pertama, keluar karena ada satu urusan yang menurut akal dan syariat harus dilakukan, seperti buang air kecil, buang air besar, wudhu wajib, mandi wajib baik karena datangnya hadats besar ataupun karena sebab-sebab lainnya, serta makan dan minum. Orang yang beri’tikaf boleh keluar dan masjid jika hal-hal tersebut tidak mungkifl dilakukan di masjid, tetapi jika hal-hal tersebut bisa dilakukan di masjid karena di dalam masjid itu terdapat kamar mandi yang dapat digunakan untuk membuang hajat dan mandi, atau karena ada orang yang mengantarkan makanan dan minuman kepadanya, maka orang yang sedang beri’tikaf itu tidak boleh keluar dan masjid, karena pada saat seperti itu tidak ada satu keperluan pun yang mengharuskannya untuk keluar.

Kedua, keluar masjid dengan tujuan untuk melakukan suatu ketaatan yang tidak wajib, seperti menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah dan lain sebagaiflYa. Dalam hal ini, orang yang sedang beri’tikaf tidak diperbolehkan untuk keluar kecuali jika dia telah mensyaratka hal itu sebelum dia memulai i’tikafnya. Oleh karena itu, jika orang yang ingin beri’tikaf memiliki seorang famili yang sedang sakit, kemudian dia ingin menjenguknya atau dia khawatir jika orang itu akan meninggal dunia, dan sebelum memulai i’tikaf dia telah mensyaratkan agar dia dapat keluar untuk melakukan tujuan itu, maka dia dibolehkan untuk keluar dan masjid.

Ketiga, keluar dari masjid untuk melakukan suatu urusan yang bertentangan dengan tujuan i’tikaf seperti melakukan jual beli, menggauli isteri ataupun untuk tujuan-tUjuan lain. Orang yang sedang beni’tikaf tidak dibolehkan untuk melakukan hal seperti itu, baik dengan syarat ataupun tidak, karena hal itu sangat bertentangan dengan makna dan tujuan i’tikaf.

Di antara keistimewaan sepuluh hari terakhir dan bulan Ramadhan ini adalah bahwa di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang merupakan malam yang lebih baik dari pada seribu bulan.

Wahai Saudara-saudaraku yang disayangi Allah, kenalilah keutamaan-keutamaan sepuluh hari terakhir dan bulan Ramadhan tersebut dan janganlah kalian menyia-nyiakannya! Karena saat-saat tersebut merupakan saat-saat yang sangat berharga, dan kebaikan yang terdapat di dalamnya merupakan kebaikan yang nyata.

Semoga Allah s.w.t. mencurahkan rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi kita, Muhammad s.a.w., serta kepada para kerabat dan sahabatnya.

 

About admin

Check Also

Sahabat yang murtad lalu bertaubat

murtad lalu bertaubat Pertanyaan: sesungguhnya sahabat yang telah ditetapkan kesahabatannya kemudian keluar dari islam setelah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam