Home / dunia islam terkini / TERHENTINYA DARAH SELAMA MASA NIFAS

TERHENTINYA DARAH SELAMA MASA NIFAS

 

Keluarnya darah selama masa nifas, bagi beberapa wanita/ibu melahirkan kadang kadang tidak lancar. Umpamanya sehari keluar sehari tidak. Menanggapi masalah ini, pendapat para ulama bisa kita lihat sebagai berikut:

Dalam Madzhab Hanafi, terhentinya darah yang menyelai-nyelai keluarnya yang tidak teratur selama masa nifas, masih tetap terhitung nifas, sekalipun terhentinya itu sampai melebihi 15 hari.

Dan demikian pula Madzhab Syafi’i masih menganggap nifas, jika terhentinya hanya sampai 15 hari, yakni menurut pendapat yang lebih kuat dalam madzhab ini. Tapi kalau sesudah melahirkan sama sekali tidak keluar darah, dan sesudah itu ditunggu sampai 15 hari juga tidak keluar darah sama sekali, maka hari-hari itu semua dianggap suci. Dengan demikian, seluruh kewajiban yang tertinggal selama itu wajib di qadha’. Adapun kalau sesudah itu kemudian ke luar darah, maka darah itu darah haid. Jadi dalam kasus seperti ini wanita itu tidak bernifas sama sekali.

Sedang menurut Madzhab Maliki, kalau terhentinya darah itu mencapai setengah bulan, itu dianggap suci. Dan darah yang ke luar sesudah itu adalah darah haid. Tapi kalau terhentinya itu kurang dan setengah bulan, maka darah yang keluar selanjutnya terhitung darah nifas. Kemudian diadakan perhitungan, berapa harikah hari-hari yang mengeluarkan darah, dengan mengenyamping hari-hari yang tidak mengeluarkan darah. Bila hari-hari yang mengeluarkan darah itu telah sampai 60 hari –masa nifas tenpanjang dalam madzhab Maliki–, itu berarti masa nifas telah habis.

Sementara itu pada hari-hari yang tidak mengeluarkan darah, wanita itu wajib melakukan kewajiban-kewajiban sebagaimana wanita yang suci, seperti shalat, puasa dll. Sekarang bagaimanakah pendapat madzhab Hambali? Seperti halnya madzhab Maliki, mereka menganggap suci saat-saat terhentinya darah di sela-sela keluarnya selama masa nifas. Jadi menurut mereka, wanita pada saat-saat itu berkewajiban melaksanakan kewajiban-kewajiban wanita yang tidak nifas.

 

HAL-HAL YANG TAK BOLEH DILAKUKAN SELAMA NIFAS

Semua yang tak boleh dilakukan selama haid, maka tak boleh dilakukan selama masa nifas, yaitu shalat, puasa,, thawaf dan bersetubuh.

  1. Sholat

Didalam kita muhalla ibnu hazm menyebutkan bahwa seorang wanita dilarang sholat ketika nifas dan tidak perlu menggantinya ketika sudah suci.

  1. Puasa

Berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Ketika kami mengalami haid, kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam pada itu memang telah ada kesepakatan di antara para Fuqoha, bahwa wanita yang kena haid itu tidak wajib mengqadha shalatnya, hanya wajib mengqadha puasanya.

Dalam hal ini Imam An-Nawawi mengatakan dalam Syarah Muslim: “Kata para Ulama, bahwa perbedaan antara dua perkara itu –yakni puasa dan shalat–, kalau shalat itu banyak dan dilakukan berkali-kali, jadi sulitlah mengqadhanya. Lain halnya puasa yang hanya setahun sekali saja wajib dilakukan. Sedang haid itu sendiri barangkali hanya berlangsung satu atau dua hari.”

“Dari Mu ‘adzah, bahwa ia mengatakan: Pernah saya tanyakan kepada ‘Aisyah, “Kenapa wanita yang haid itu harus mengqadha puasa, sedang shalatnya tidak?”

Maka jawab beliau: “Itu pernah kami alami semasa hidup Rasulullah saw. Tapi kami hanya disuruh mengqadha puasa dan tidak disuruh mengqadha shalat”

  1. Thowaf

Sebagaimana dalam hadits Rasulullah SAW bersabda kepada Aisyah Ra., “Lakukanlah apa yang dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan thawaf di ka’bah sampai kamu suci.” (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Bersetubuh

Allah berfirman :

 “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka telah suci, Maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al Baqarah: 222). Nifas dan haid hukumnya sama.

 

 

About admin

Check Also

niat puasa sunnah

Masalah kesembilan belas Kapankah niat puasa sunnah diutarakan?   Aisyah r.a. meriwayatkan, “Pada suatu hari, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Tanya Jawab Agama Islam